Rabu, 26 November 2014

Aliran Neo-Positivisme


Aliran Neo-Positivisme dalam Pendidikan.

Pada abad ke 19 muncul aliran positivisme yang diperkenalkan oleh Agustus Comte. Istilah “positivisme” diturunkan dari kata “positif”. Filsafat ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang faktual, yang positif. Semua yang diketahui secara positif adalah semua gejala atau sesuatu yang tampak. Karena itu mereka menolak metafisika dan yang paling penting adalah pengetahuan tentang kenyataan dan menyelidiki hubungan-hubungan antara kenyataan untuk bisa memprediksi apa yang akan terjadi di kemudian hari, dan bukannya mempelajari hakikat atau makna dari semua kenyataan.  Sehingga positivisme dalam hal ini diartikan sebagai teori yang bertujuan untuk penyusunan fakta-fakta yang teramati.
Dalam pandangan positivisme, pengetahuan kita tidak boleh melebihi fakta-fakta.  Positivisme merupakan suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris. Sesungguhnya aliran ini menolak adanya spekulasi teoritis sebagai suatu sarana untuk memperoleh pengetahuan.
Kesamaan positivisme dengan empirisme adalah bahwa keduanya mengutamakan pengalaman. Sedangkan perbedaannya bahwa positivisme hanya membatasi diri pada pengalaman-pengalaman obyektif, berbeda dengan empirisme yang juga menerima pengalaman-pengalaman batiniah atau pengalaman yang subyektif. Singkatnya, positivisme tidak menerima pengalaman bathiniah sebagai sumber pengetahuan (menolak metafisika). Menurut positivisme, pengetahuan sejati hanyalah pengalaman obyektif yang bersifat lahiriah, yang bisa diuji secara indrawi dan dapat dibuktikan melalui pengamatan. Terdapat tiga tahap dalam perkembangan positivisme, yaitu:
1.    Tempat utama dalam positivisme pertama diberikan pada Sosiologi, walaupun perhatiannya juga diberikan pada teori pengetahuan yang diungkapkan oleh Comte dan tentang Logika yang dikemukakan oleh Mill. Tokoh-tokohnya Auguste Comte, E. Littre, P. Laffitte, JS. Mill dan Spencer.
2.    Munculnya tahap kedua dalam positivisme – empirio -positivisme – berawal pada tahun 1870-1890-an dan berpautan dengan Mach dan Avenarius. Keduanya meninggalkan pengetahuan formal tentang obyek-obyek nyata obyektif, yang merupakan suatu ciri positivisme awal. Dalam Machisme, masalah-masalah pengenalan ditafsirkan dari sudut pandang psikologisme ekstrim, yang bergabung dengan subjektivisme.
3.    Perkembangan positivisme tahap terakhir berkaitan dengan lingkaran Wina dengan tokoh-tokohnya O.Neurath, Carnap, Schlick, Frank, dan lain-lain. Serta kelompok yang turut berpengaruh pada perkembangan tahap ketiga ini adalah Masyarakat Filsafat Ilmiah Berlin. Kedua kelompok ini menggabungkan sejumlah aliran seperti atomisme logis, positivisme logis, serta semantika. Pokok bahasan positivisme tahap ketiga ini diantaranya tentang bahasa, logika simbolis, struktur penyelidikan ilmiah dan lain-lain. 
Menurut Comte, (dalam Cours de Philosophy Positive) perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam 3 tahap atau 3 zaman, yaitu zaman teologis, metafifis , dan zaman positif. Perkembangan yang demikian itu berlaku baik bagi perkembangan pemikiran perorangan, maupun bagi perkembangan pemikiran seluruh umat manusia. Pemikiran tersebut yaitu :
1.      Tahap Teologis
Pada tahap teologis orang mengarahkan rohnya kepada hakikat batiniah segala sesuatu, sebab pertama dan tujan terakhir segala sesuatu. Disini orang masih mengakui adanya yang mutlak yang berada di balik segala sesuatu. fase teologi juga menekankan pada perasaan dimana manusia percaya bahwa dibelakang gejala-gejala alam ada kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut. Pada taraf pemikiran ini, masih ditemukan tiga tahap, antara lain :
1.      Tahap primitive atau paling bersahaja, ketika orang percaya kepada paham bahwa segala sesuatu memiliki jiwa dan kekuatan (animisme),
2.      Tahap politeisme, dimana orang mereduksi satu kekuatan adikodrati kepada sekian banyak kekuatan lain dan akhirnya setiap gejala memperlihatkan dewa-dewintya tersendiri,
3.      Tahap ketiga yang adalah tahap tertinggi ialah monoteisme. Disini orang menggantikan dewa-dewi yang banyak dengan satu kekuatan tertinggi yang bersifat mutlak dan manusia percaya pada satu Tuhan sebagai  Yang Maha Kuasa.

2.      Tahap metafisis.
Tahap metafisika dilihat sebagai suatu perwujudan perubahan dari tahap teologis. Kekuatan adikodrati diganti dengan kekuatan-kekuatan yang abstrak dengan pengada lahiriah, yang disatukan kosmos atau alam, yang dilihat sebagai pengfasal dari segala sesuatu yang ada. fase metafisika juga dikuasai oleh pengertian-pengertian umum yang abstrak dan oleh berbagai sistem dan cita.

3.      Tahap positif
Tahap positif adalah tahap dimana orang berpendirian untuk tidak lagi mengenal atau mengetahui mutlak, baik pengenalan teologis, maupun metafisis. Ia tidak memiliki kepedulian untuk mencari tahu dan percaya akan sesuatu yang disebut hakikat dunia yang melatarbelakangi segala sesuatu. Keterangan-keterangan keilmuan adalah lukisan-lukisan dari peristiwa dan pertalian-pertaliannya. Roh manusia tidak boleh berspekulasi, melainkan harus mengorganisasi, bukan hanya dirinya sendiri saja, melainkan juga masyarakat nya. Hukum alam tidak lain daripada lukisan-lukisan yang disimpulkan tentang pengalaman-pengalaman kita. Ilmu pasti adalah semua metode untuk meningkatkan cara berhitung.

Perbedaan yang memuat antara pemikiran metafisis dan positivisme tentang ilmu yaitu menurut metafisis tujuan ilmu yaitu belajar kenal dengan dunia sebenarnya yang sudah ada. Sedang menurut pendapat yang positivis tujuan ilmu ialah mengkonstruksi suatu system kalimat-kalimat atau ucapan-ucapan yang dengan perantaranya manusia dapat berorientasi dalam dunia pengalamannya.

Sebagai contoh perbedaan dan peralihan dari tiap tahap tersebut, dapat dilihat misalanya dari penjelasan tentang angin puting beliung. Pada tahap teologis, hal ini akan dijelaskan sebagai hasil tindakan lagsung dari seorang dewa angin, atau tuhan yang agung. Dalam tahap metafisik, hal ini akan dijelaskan sebagai manifestasi dari hukum alam yang tidak dapat diubah. Dan dalam tahap positif, angin puting beliung akan dijelaskan sebagai hasil dari kombinasi tertentu dan tekanan-tekanan udara, kecepatan angin, kelembapan dan suhu.

Akar utama dari positivisme terletak dalam perkembangan ilmu pasti dan ilmu alam modern. Perkembangan ini mengarahkan kearah ketelitian logika dan pendasaran dengan aksioma-aksioma.  

Dalam perkembangannya, positivisme mengalami perombakan dibeberapa sisi, hingga munculah aliran pemikiran yang bernama Positivisme Logis yang tentunya di pelopori oleh tokoh-tokoh yang berasal dari Lingkaran Wina.
Positivisme logis adalah aliran pemikiran dalam filsafat yang membatasi pikirannya pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis definisi dan relasi
Tujuan pada positivisme logis ini adalah untuk mengorganisasikan kembali pengetahuan ilmiah di dalam suatu sistem yang dikenal dengan ”kesatuan ilmu” yang juga akan menghilangkan perbedaan-perbedaan antara ilmu-ilmu yang terpisah. Logika dan matematika dianggap sebagai ilmu-ilmu formal.
Positivisme berusaha menjelaskan pengetahuan ilmiah berkenaan dengan tiga komponen yaitu bahasa teoritis, bahasa observasional dan kaidah-kaidah korespondensi yang mengakaitkan keduanya. Tekanan positivistik menggaris bawahi penegasannya bahwa hanya bahasa observasional yang menyatakan informasi faktual, sementara pernyataan-pernyataan dalam bahasa teoritis tidak mempunyai arti faktual sampai pernyataan-pernyataan itu diterjemahkan ke dalam bahasa observasional dengan kaidah-kaidah korespondensi.
Tidaklah mudah untuk mengatakan apa sebenarnya yang dikehendaki oleh kaum positivisme. Ditinjau dari satu sudut mereka merupakan golongan yang tertutup rapat dan dari sudut pandang lain terlihat didalamnya perbedaan-perbedaan pendapat, sedang pendirian-pendirian yang dipegang semula kemudian ditinjau kembali oleh beberapa diantara mereka, sehingga dapatlah kita berkata tentang adanya sayap kanan dan sayap kiri. Tetapi yang pasti ialah bahwa satu-satunya yang dianggap penting oleh mereka ialah : interprestasi keilmuan tentang kenyataan. Sudah pasti bahwa menurut anggapan mereka metafisika tidak dapat di persatukan dengan interprestasi keilmuan semacam ini dengan perkataan lain : metafisika tidak bersifat keilmuan. Mereka tidak mau tahu tentang filsafat yang pada dasarnya berlainan hakikatnya dari ilmu eksak.  Kaum positivis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dimana metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum sosial kemasyarakatan. Aliran ini tentunya mendapat pengaruh dari kaum empiris dan mereka sangat optimis dengan kemajuan dari revolusi Perancis.

Implikasi Aliran Neo-Positivisme dalam Pendidikan.

Pendidikan sebagaimana telah dikemukakan dalam pendahuluan, hakikat pendidikan tiada lain adalah humanisasi. Tujuan pendidikan adalah terwujudnya manusia ideal atau manusia yang dicita-citakan sesuai nilai-nilai dan normanorma yang dianut. Contoh manusia ideal yang menjadi tujuan pendidikan tersebut antara lain: manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, cerdas, terampil, dst. Sebab itu, pendidikan bersifat normatif dan mesti dapat dipertanggungjawabkan. Mengingat hal di atas, pendidikan tidak boleh dilaksanakan secara sembarang, melainkan harus dilaksanakan secara bijaksana. Maksudnya, pendidikan harus dilaksanakan secara disadari dengan mengacu kepada suatu landasan yang kokoh, sehingga jelas tujuannya, tepat isi kurikulumnya, serta efisien dan efektif cara-cara pelaksanaannya. Implikasinya, dalam pendidikan, menurut Tatang S (1994) mesti terdapat momen berpikir dan momen bertindak. Secara lebih luas dapat dikatakan bahwa dalam rangka pendidikan itu (Redja M; 1994), terdapat momen studi pendidikan dan momen praktek pendidikan. Momen studi pendidikan yaitu saat berpikir atau saat mempelajari pendidikan dengan tujuan untuk memahami/menghasilkan sistem konsep pendidikan.
Pendidikan yang neo-positivistik menekankan pentingnya metode empiris-eksperimental dan menuntut adanya objektivitas dalam setiap kajiannya. Objektivitas adalah sasaran pendidikan yang diajukan guna menekan dominasi subjektivitas peneliti. Ralitas sebagai objek kajian harus bisa dimengerti secara rasional oleh peneliti atau peserta didik. Pendidikan harus mampu menjadi sarana bagi dijalankannya metode ilmiah. Tujuan pendidikan neo-positifistik adalah memperoleh pengetahuan sejati melalui metode ilmiah dan verifikasi.
Aliran ini sangat mendominasi sistem pendidikan yang sedang berjalan dewasa ini. Ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial memakai metode ilmiah dalam memahami realitas. Melalui metode ilmiah, kebenaran dapat tercapai. Namun kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran tentatif yang dapat gugur jika ditemukan kebenaran baru yang lebih tetap. Konsekuensinya, proposisi-proposisi metafisik tidak mendapat tempat. Kajian ilmu yang memfokuskan diri pada problem metafisika dan teologi dipisahkan dalam kelompok ilmu-ilmu filsafat dan humaniora. Metafisika dianggap non-sense dan tidak dapat dibuktikan secara empiris. Pendidikan neo-positivistik selalu menuntut adanya pengujian secara matematis. Manusia dan alam direduksi sebagai objek kajian yang dapat diukur secara matematis.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar