Rabu, 10 Desember 2014

Power Point

Asal Usul Banten


(Mengenal Banten Lebih Dekat)

Banten merupakan salah satu provinsi di indonesia dan terletak di pulau jawa. Pada awalnya banten merupakan salahsatu daerah bagian dari provinsi jawa barat, setelah adanya pemekaran maka banten menjadi salah satu provinsi di indonesia. Kata Banten muncul jauh sebelum berdirinya Kesultanan Banten. Kata ini digunakan untuk menamai sebuah sungai dan daerah sekelilingnya yaitu Cibanten atau sungai Banten. Bahasa Banten adalah salah satu dialek bahasa Sunda yang lebih dekat kepada bahasa Sunda kuno, pada tingkatan bahasa Sunda modern dikelompokkan sebagai bahasa kasar. Bahasa ini dilestarikan salah satunya melalui program berita Beja ti Lembur dalam bahasa Banten yang disiarkan siaran televisi lokal di wilayah Banten. Sajarah mencatat bahwa pada awalnya banten merupakan daerah kerajaan islam yaitu  Kesultanan Banten.  Berawal sekitar tahun 1526, ketika kerajaan demak memperluas pengaruhnya ke kawasan pesisir barat pulau jawa dengan menaklukan beberapa kawasan pelabuhan kemudian menjadikannya sebagai pangkalan militer serta kawasan perdagangan. Pada saat itu kesultanan banten di pimpin oleh Sultan Maulana Hasanuddin , yang pada awalnya berperan dalam penaklukan banten. Setelah penaklukan tersebut, Maulana Hasanuddin mendirikan benteng pertahanan yang dinamakan surosowan yang kemudian hari menjadi pusat pemerintahan, setelah Banten menjadi kesultanan yang berdiri sendiri, Istana Surosowan sebagai simbol kekuasaan di Kota Intan dihancurkan, dan pada masa-masa akhir pemerintanannya, sampai sekarang bagian-bagian dari runtuhan benteng surosowan masih ada dan menjadi tempat wisata pendidikan. Setelah kesultanan banten berakhir banyak peninggalan-peninggalan sejarah di banten yang sekarang dijadikan sebagai bangunan sejarah dan dijadikan sebagai tempat edukasi dan rekreasi. Seperti benteng surosowan, menara banten, museum banten, dan mesjid agung banten. Mesjid agung banten sangat terkenal bukan hanya di sekitar masyarakat banten tetapi terkenal ke seluruh indonesia khususnya di pulau jawa, hal ini dapat dilihat dari banyaknya masyarakat dari jawa datang ke banten untuk berziarah, di banten sendiri terdapat beberapa penziarahan, seperti yang terkenal dan yang banyak dikunjungi masyarakat sekitar banten bahkan masyarakat dari pulau jawa yaitu penziarahan sultan maulana hasannudin yang berada di mesjid agung banten, selain makam sultan  Maulana Hasannudin di banten masih ada banyak tempat penjiarahan, seperti putra dari sultan Maulana Hasanuddin yaitu makam maulana yusuf yang berada di daerah kasunyatan yang sering banyak di kunjungi oleh penziaraha dari pulau jawa dan luar pulau jawa. Selain terkenal dengan banyaknya tempat penjiarahan banten juga terkenal dengan kesenian dan sukunya yang unik, kesebian banten seperti debus, rampak beduk, kesenian pencak silat dan masih banyak lainnya. Kesenian debus sangat terkenal di indonesia, kesenian debus merupakan kesenian yang menggunakan keterampilan spiritual. Kesenian debus menjadikan pelakunya menjadi kuat, kuat dalam memakan benda tajam, tahan di bakar dengan api, berjalan diatas benda tajam, bahkan tahan jika badan pelaku di letakan kendaraan atau benda tajam, selain debus rampak beduk juga merupakan kesenian khas banten, dimana pada klesenian ini berbeda dengan kesenian yang lain. Kesenian rampak bedug yaitu kesenian dengan memainkan beduk secara serempak dan berkelompok. Selain debus, rampak bedug. Banten juga terkenal dengan kesenian pencak silatnya, hal ini ditandai dengan salah satu jurus yang berasal dari banten ya\itu bandrong, terumbu. Pencak silat dimainkan bukan hanya oleh para santri yang ada di pesantren, tetapi juga dimainkan oleh masyarakat luas di sekitar banten. Karena kemampuan pencak silatnya dan kesenian debus, banten dikenal sebagai tanah para jawara. Dan banyak orang yang takut ketika mendengar kata banten, karena mereka membuat paradigma bahwa banten adalah provinsi yang kuat, tanah para jawara dan bisa memakan sesuatu yang tidak umun dan tidak layak untuk dimakan.    











Pertanyaan Filsafat


Pertanyaan :

1.      Apakah dalam suatu pengetahuan mengandung suatu kebenaran serta kepastian?
2.      Bagaimana caranya agar kita bisa berfilsafat, Apakah harus mengikuti prinsip-prinsip dalam berfilsafat?
3.      Apakah dalam memecahkan masalah yang dihadapi, manusia harus menggunakan rasionalitas?
4.      Salah satu peran penting filsafat adalah mengembangkan pendekatan interdisipliner. Bagaimana cara untuk mengembangkan pendekatan interdisipliner ditengah banyaknya aliran filsafat pada zaman sekarang sehingga peran penting filsafat dapat dirasakan dalam kehidupan?
5.      Apakah suatu ilmu bebas nilai?
6.      Apakah kebetulan itu memang ada? Jika ada apakah suatu kejadian di iring suatu kebetulan?
7.      Apakah filsafat hanya berkaitan dengan hal-hal abstrak yang tidak mengena pada masalah-masalah kehidupan konkrit?   
8.      Untuk dapat berfilsafat perlu banyak belajar dan lumayan sulit. Apakah kita harus bisa berfilsafat?
9.      Apakah setelah kita bisa berfilsafat, kita juga akan lebih berfikir kritis?
10.  Kenapa harus ada rasa kecewa dalam diri manusia? Apakah dari rasa kecewa itu kita menjadi dewasa?

Kritik Kampus


Untirta Baru

Universitas Sultan Ageng Tirtayasa merupakan salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia dan Universitas Sultan Ageng tirtayasa termasuk Universitas ternama di banten, bahkan untirta merupakan satu-satunya peruruan tinggi di banten yang termasuk kedalam wilayah kementrian pendidikan dan kebudayaan. Mempunyai kebahagiaan tersendirii jika kita bisa menjadi mahasiswa di kampus no satu di banten ini. Tetapi setelah masuk menjadi bagian kampus ini terdapat suatu ketidakpuasan kepada kampus untirta. Karena kendati merupakan salah satu universitas no satu di banten, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa belum bisa di katakan kampus nomer satu di banten karena fasilitas yang kurang memadai di kampus ini.  Kuranggnya fasilitas di untirta bisa dilihat dari pendingin yang  banyak tetapi tidak berfungsi, ubin rusak,  kurangnya ketersediaan kursi, banyak kursi yang rusak, infokus yang rusak, serta pembangunan yang gedung yang tidak berjalan semestinya. Kekuranggan-kekurangan tersebut dapat mengganggu proses pembelajaran, seperti ketika pendingin ruangan yang tidak berfungsi maka proses pembelajaran tidak akan berjalan dengan lancar, fokus mahasiswa akan terganggu karena merasa panas di ruangan yang diisi lebih dari 35 orang, demikian dengan kurangnya ketersediaan kursi, hal ini dapat mengganggu pembelajaran karena mahasiswa harus mencari kursi terlebih dahulu ke ruangan lain. Selain kekurangan kursi,  banyak juga kursi yang kurang layak pakai hal ini dapat menggangu kenyamanan dalam kegiatan pembelajaran. Selain kursi yang rusak, infokus pun banyak yang rusak sehingga pembelajaran terganggu dan monoton. Yang lebih memprohatinkan yaitu pembuatan gedun laboratorium yang di rencanakan  akan rampung pada pertengahan tahun 2014 pun hingga kini masih terabaikan.
Kami sebagai mahasiswa telah melakukan kewajiban kami yaitu membayar semesteran yang jumlahnya tak sedikit, selain itu sebagai peruruan neeri pasti mendapatkan bantuan dana dari pemerintah una memperlanjar proses pendidikan. Seharusnya terjadi keterkaitan atau umpan balik antara universitas dan Mahasiswa, dalam hal ini mahasiswa telah melaksanakan kewajiaban terhadap kampus sebaiknya kampuspun memberikan hak yan harus diterima mahasiswa yaitu selain mendapatkan pelajaran tetapi mahasiswapun mempunyai hak untuk mendapatkan kelayakan fasilitas guna mendukung proses pembeljaran. Dalam situasi seperti ini Siapa yang harus disalahkan apakah rector, apakah wakil rector, dekan atau mahasiswanya sendiri yang harus disalahkan? Jika kita hurus mencari jawaban dari pertanyaan menenai kesalahan tersebut maka tidak akan mendapat titik temu atau tidak akan mendapat jawaban pastinya. Dan sebaiknya kita sebagai mahasiswa harus berani untuk melakukan pererakan menuju perubahan untirta baru. Banyak kendala yang akan ditemui atau mungkin ada beberapa orang yang akan melarang untuk melakukan aksi menuntut perubahan, tetapi hal itu dapat terpatahkan jika kita sebagai mahasiswa bersatu tanpa takut, bekerja sama dan bergerak secara serentak untuk menuntut keadilan dan menuntut hak yang sebenarnya harus kita terima dari universitas. Dengan bergerak bersama-sama dengan seluruh mahasiswa untirta maka perubahan menuju untirta yang lebih baik akan tercapai dengan cepat, ibaratkan ungkapan "hewan saja sangat peka melihat apa yang terjadi dan akan terjadi terhadap lingkungan sekitar", dan dari ungkapan tersebut seharusnya kita sebagai mahasiswa harus mempunyai kepekaan yang lebih terhadap kampus Untirta.

Rabu, 26 November 2014

Revisi Aliran Positivisme


Positivisme dan Pendidikan.

Pada abad ke 19 muncul aliran positivisme yang diperkenalkan oleh Agustus Comte. Istilah “positivisme” diturunkan dari kata “positif”. Filsafat ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang faktual, yang positif. Semua yang diketahui secara positif adalah semua gejala atau sesuatu yang tampak. Karena itu mereka menolak metafisika dan yang paling penting adalah pengetahuan tentang kenyataan dan menyelidiki hubungan-hubungan antara kenyataan untuk bisa memprediksi apa yang akan terjadi di kemudian hari, dan bukannya mempelajari hakikat atau makna dari semua kenyataan.  Sehingga positivisme dalam hal ini diartikan sebagai teori yang bertujuan untuk penyusunan fakta-fakta yang teramati.
Dalam pandangan positivisme, pengetahuan kita tidak boleh melebihi fakta-fakta.  Positivisme merupakan suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris. Sesungguhnya aliran ini menolak adanya spekulasi teoritis sebagai suatu sarana untuk memperoleh pengetahuan.
Kesamaan positivisme dengan empirisme adalah bahwa keduanya mengutamakan pengalaman. Sedangkan perbedaannya bahwa positivisme hanya membatasi diri pada pengalaman-pengalaman obyektif, berbeda dengan empirisme yang juga menerima pengalaman-pengalaman batiniah atau pengalaman yang subyektif. Singkatnya, positivisme tidak menerima pengalaman bathiniah sebagai sumber pengetahuan (menolak metafisika). Menurut positivisme, pengetahuan sejati hanyalah pengalaman obyektif yang bersifat lahiriah, yang bisa diuji secara indrawi dan dapat dibuktikan melalui pengamatan. Terdapat tiga tahap dalam perkembangan positivisme, yaitu:
1.    Tempat utama dalam positivisme pertama diberikan pada Sosiologi, walaupun perhatiannya juga diberikan pada teori pengetahuan yang diungkapkan oleh Comte dan tentang Logika yang dikemukakan oleh Mill. Tokoh-tokohnya Auguste Comte, E. Littre, P. Laffitte, JS. Mill dan Spencer.
2.    Munculnya tahap kedua dalam positivisme – empirio -positivisme – berawal pada tahun 1870-1890-an dan berpautan dengan Mach dan Avenarius. Keduanya meninggalkan pengetahuan formal tentang obyek-obyek nyata obyektif, yang merupakan suatu ciri positivisme awal. Dalam Machisme, masalah-masalah pengenalan ditafsirkan dari sudut pandang psikologisme ekstrim, yang bergabung dengan subjektivisme.
3.    Perkembangan positivisme tahap terakhir berkaitan dengan lingkaran Wina dengan tokoh-tokohnya O.Neurath, Carnap, Schlick, Frank, dan lain-lain. Serta kelompok yang turut berpengaruh pada perkembangan tahap ketiga ini adalah Masyarakat Filsafat Ilmiah Berlin.
Menurut Comte, (dalam Cours de Philosophy Positive) perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam 3 tahap atau 3 zaman, yaitu zaman teologis, metafifis , dan zaman positif. Perkembangan yang demikian itu berlaku baik bagi perkembangan pemikiran perorangan, maupun bagi perkembangan pemikiran seluruh umat manusia. Pemikiran tersebut yaitu :
1.    Tahap Teologis
Pada tahap teologis orang mengarahkan rohnya kepada hakikat batiniah, sebagai sebab pertama dan tujan terakhir segala sesuatu. Disini orang masih mengakui adanya yang mutlak yang berada di balik segala sesuatu. fase teologi juga menekankan pada perasaan dimana manusia percaya bahwa dibelakang gejala-gejala alam ada kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut. Pada taraf pemikiran ini, masih ditemukan tiga tahap, antara lain :
1.      Tahap primitive atau paling bersahaja, ketika orang percaya kepada paham bahwa segala sesuatu memiliki jiwa dan kekuatan (animisme),
2.      Tahap politeisme, dimana orang mereduksi satu kekuatan adikodrati kepada sekian banyak kekuatan lain dan akhirnya setiap gejala memperlihatkan dewa-dewintya tersendiri,
3.      Tahap ketiga yang adalah tahap tertinggi ialah monoteisme. Disini orang menggantikan dewa-dewi yang banyak dengan satu kekuatan tertinggi yang bersifat mutlak dan manusia percaya pada satu Tuhan sebagai  Yang Maha Kuasa.

2.        Tahap metafisis.
Tahap metafisika dilihat sebagai suatu perwujudan perubahan dari tahap teologis. Kekuatan adikodrati diganti dengan kekuatan-kekuatan yang abstrak dengan pengada lahiriah, yang disatukan kosmos atau alam, yang dilihat sebagai pengfasal dari segala sesuatu yang ada. fase metafisika juga dikuasai oleh pengertian-pengertian umum yang abstrak dan oleh berbagai sistem dan cita.

3.        Tahap positif
Tahap positif adalah tahap dimana orang berpendirian untuk tidak lagi mengenal atau mengetahui mutlak, baik pengenalan teologis, maupun metafisis. Ia tidak memiliki kepedulian untuk mencari tahu dan percaya akan sesuatu yang disebut hakikat dunia yang melatarbelakangi segala sesuatu. Keterangan-keterangan keilmuan adalah lukisan-lukisan dari peristiwa dan pertalian-pertaliannya. Roh manusia tidak boleh berspekulasi, melainkan harus mengorganisasi, bukan hanya dirinya sendiri saja, melainkan juga masyarakat nya. Hukum alam tidak lain daripada lukisan-lukisan yang disimpulkan tentang pengalaman-pengalaman kita. Ilmu pasti adalah semua metode untuk meningkatkan cara berhitung.

Perbedaan yang memuat antara pemikiran metafisis dan positivisme tentang ilmu yaitu menurut metafisis tujuan ilmu yaitu belajar kenal dengan dunia sebenarnya yang sudah ada. Sedang menurut pendapat yang positivis tujuan ilmu ialah mengkonstruksi suatu system kalimat-kalimat atau ucapan-ucapan yang dengan perantaranya manusia dapat berorientasi dalam dunia pengalamannya.

Sebagai contoh perbedaan dan peralihan dari tiap tahap tersebut, dapat dilihat misalanya dari penjelasan tentang angin puting beliung. Pada tahap teologis, hal ini akan dijelaskan sebagai hasil tindakan lagsung dari seorang dewa angin, atau tuhan yang agung. Dalam tahap metafisik, hal ini akan dijelaskan sebagai manifestasi dari hukum alam yang tidak dapat diubah. Dan dalam tahap positif, angin puting beliung akan dijelaskan sebagai hasil dari kombinasi tertentu dan tekanan-tekanan udara, kecepatan angin, kelembapan dan suhu.

Akar utama dari positivisme terletak dalam perkembangan ilmu pasti dan ilmu alam modern. Perkembangan ini mengarahkan kearah ketelitian logika dan pendasaran dengan aksioma-aksioma.  

Dalam perkembangannya, positivisme mengalami perombakan dibeberapa sisi, hingga munculah aliran pemikiran yang bernama Positivisme Logis yang tentunya di pelopori oleh tokoh-tokoh yang berasal dari Lingkaran Wina.
Positivisme logis adalah aliran pemikiran dalam filsafat yang membatasi pikirannya pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis definisi dan relasi
Tujuan pada positivisme logis ini adalah untuk mengorganisasikan kembali pengetahuan ilmiah di dalam suatu sistem yang dikenal dengan ”kesatuan ilmu” yang juga akan menghilangkan perbedaan-perbedaan antara ilmu-ilmu yang terpisah. Logika dan matematika dianggap sebagai ilmu-ilmu formal.
Positivisme berusaha menjelaskan pengetahuan ilmiah berkenaan dengan tiga komponen yaitu bahasa teoritis, bahasa observasional dan kaidah-kaidah korespondensi yang mengakaitkan keduanya. Tekanan positivistik menggaris bawahi penegasannya bahwa hanya bahasa observasional yang menyatakan informasi faktual, sementara pernyataan-pernyataan dalam bahasa teoritis tidak mempunyai arti faktual sampai pernyataan-pernyataan itu diterjemahkan ke dalam bahasa observasional dengan kaidah-kaidah korespondensi.
Tidaklah mudah untuk mengatakan apa sebenarnya yang dikehendaki oleh kaum positivisme. Ditinjau dari satu sudut mereka merupakan golongan yang tertutup rapat dan dari sudut pandang lain terlihat didalamnya perbedaan-perbedaan pendapat, sedang pendirian-pendirian yang dipegang semula kemudian ditinjau kembali oleh beberapa diantara mereka, sehingga dapatlah kita berkata tentang adanya sayap kanan dan sayap kiri. Tetapi yang pasti adalah bahwa satu-satunya yang dianggap penting oleh mereka ialah : interprestasi keilmuan tentang kenyataan. Sudah pasti bahwa menurut anggapan mereka metafisika tidak dapat di persatukan dengan interprestasi keilmuan semacam ini dengan perkataan lain : metafisika tidak bersifat keilmuan. Mereka tidak mau tahu tentang filsafat yang pada dasarnya berlainan hakikatnya dari ilmu eksak.  Kaum positivis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dimana metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum sosial kemasyarakatan.

Implikasi Aliran Positivisme dalam Pendidikan.

Hakikat pendidikan tiada lain adalah humanisasi. Tujuan pendidikan adalah terwujudnya manusia ideal atau manusia yang dicita-citakan sesuai nilai-nilai dan norma-norma yang dianut. Contoh manusia ideal yang menjadi tujuan pendidikan tersebut antara lain: manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, cerdas, terampil, dst. Sebab itu, pendidikan bersifat normatif dan mesti dapat dipertanggungjawabkan. Mengingat hal di atas, pendidikan tidak boleh dilaksanakan secara sembarang, melainkan harus dilaksanakan secara bijaksana. Maksudnya, pendidikan harus dilaksanakan secara disadari dengan mengacu kepada suatu landasan yang kokoh, sehingga jelas tujuannya, tepat isi kurikulumnya, serta efisien dan efektif cara-cara pelaksanaannya. Implikasinya, dalam pendidikan, menurut Tatang S (1994) mesti terdapat momen berpikir dan momen bertindak. Secara lebih luas dapat dikatakan bahwa dalam rangka pendidikan itu (Redja M; 1994), terdapat momen studi pendidikan dan momen praktek pendidikan. Momen studi pendidikan yaitu saat berpikir atau saat mempelajari pendidikan dengan tujuan untuk memahami/menghasilkan sistem konsep pendidikan.
Pendidikan yang positivistik menekankan pentingnya metode empiris-eksperimental dan menuntut adanya objektivitas dalam setiap kajiannya. Objektivitas adalah sasaran pendidikan yang diajukan guna menekan dominasi subjektivitas peneliti. Ralitas sebagai objek kajian harus bisa dimengerti secara rasional oleh peneliti atau peserta didik. Pendidikan harus mampu menjadi sarana bagi dijalankannya metode ilmiah. Tujuan pendidikan positifistik adalah memperoleh pengetahuan sejati melalui metode ilmiah dan verifikasi.
Aliran ini sangat mendominasi sistem pendidikan yang sedang berjalan dewasa ini. Ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial memakai metode ilmiah dalam memahami realitas. Melalui metode ilmiah, kebenaran dapat tercapai. Namun kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran tentatif yang dapat gugur jika ditemukan kebenaran baru yang lebih tetap. Konsekuensinya, proposisi-proposisi metafisik tidak mendapat tempat. Kajian ilmu yang memfokuskan diri pada problem metafisika dan teologi dipisahkan dalam kelompok ilmu-ilmu filsafat dan humaniora. Metafisika dianggap non-sense dan tidak dapat dibuktikan secara empiris. Pendidikan positivistik selalu menuntut adanya pengujian secara matematis. Manusia dan alam direduksi sebagai objek kajian yang dapat diukur secara matematis. Jika di hubungkan dengan pendidikan di indonesia saat ini, aliran positivisme sangat mendominasi dan menjadi landasan dalam pelaksanaannya. Kurikulum yang di pakai di indonesia saat ini yaitu kurikulum 2013, dimana pada kurikulum 2013 menekankan pada keaktifan siswa (active learning), dimana siswa dituntut untuk aktif di dalam kegiatan pembelajaran, dan metode yang di gunakan pada pendidikan di indonesia yaitu menggunakan metode konstruktivisme, dimana siswa membangun/mengkonstruksi dan mengembangkan sendiri pengetahuan yang telah didapat agar ilmu yang di dapat lebih mudah di pahami dan dapat di aplikasikan pada kehidupan sehari-hari. Pada kurikulum 2013 juga menggunakan metode saintific yang menekankan pada 5M (Menanya, Mencoba, Menganalisis, Mengasosiasikan dan Mengkomunikasikan) dimana pendekatan ini menekankan pada kegiatan experimental, siswa dalam mencari, mengumpulkan data, menguji hipotesis dan menganalisis masalah yang tengah di pecahkan serta mengambil kesimpulan deri fakta dan data yang telah di peroleh. Dapat disimpulkan kegiatan pendidikan di indonesia saat ini menggunakan landasan salah satu filsafat yaitu aliran Positivisme. Pada aliran positivisme siswa harus memperkaya dan mengembangkan ilmu yang telah didapat dengan menggunakan metode-metode ilmiah sehingga membentuk siswa yang mempunyai pemikiran yang ilmiah, kritis dan analitis serta mampu mengamati fenomena yang terjadi dengan pemikiran yang logis dan sesuai dengan ilmu pengetahuan yang ada hal ini sejalan dengan salah tujuan pendidikan di indonesia yaitu untuk membentuk peserta didik yang berakhlak mulia, berilmu, cakap, mandiri, dan menjadi warga Negara yang bertanggung jawab.