Kamis, 12 Januari 2017

Pengaruh Model Pembelajaran Example Non Example Terhadap Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Pada Materi Bangun Ruang Sisi Datar



Pengaruh Model Pembelajaran Example Non Example Terhadap Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Pada Materi Bangun Ruang Sisi Datar

Proposal
( untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah seminar pendidikan matematika )







 




 














Disusun oleh :

Yustika Nuramalina


 Jurusan Pendidikan Matematika
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA


BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar belakang :
Matematika merupakan bidang studi yang wajib dipelajari oleh semua siswa SD, SMP, SMA, bahkan juga di Perguruan Tinggi. Hal ini dikarenakan kegunaan matematika itu besar, baik sebagai ilmu pengetahuan, sebagai alat maupun sebagai pembentuk sikap yang di harapkan.
Matematika memegang peranan penting dalam pendidikan masyarakat baik sebagai objek langsung ( fakta, keterampilan, konsep, prinsipel) maupun objek tak langsung (berpikir kritis, sistematis, logis, kreatif, tekun, dan pemecahan masalah) (Ruseffendi, 1998: 208).
Matematika  adalah cabang  ilmu yang mendasari cabang ilmu lainnya. Semua ilmu menggunakan matematika dalam pengembangannya. Matematika juga merupakan ilmu terapan, matematika disebut ilmu terapan karena matematika sering diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak kegiatan yang dilakukan dengan perhitungan matematika. Tapi, berdasarkan pengamatan di lapangan, banyak orang yang tidak menyukai matematika dan menganggap metematika itu sulit. Salah satu faktor yang dianggap menyebabkan hal tersebut terjadi yaitu rendahnya kemampuan untuk memahami konsep matematika. Rendahnya kemampuan pemahaman konsep matematika terjadi karena metode mengajar guru yang kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan, menciptakan dan menkomunikasikan ide yang dimiliki siswa dalam pemecahan suatu persoalan matematika.
Hal tersebut sejalan dengan pendapat Marjohan (dalam Zakaria, 2014) yang mengatakan “Sistem pengajaran yang diterapkan oleh guru hanya mengulang-ulang serta sangat minim kreativitas dalam mengembangkan seni mengajar”. Sejalan dengan pendapat Marjohan, Wonosetya Budhi, dosen matematika dari Institut Teknologi Bandung mengatakan “Pembelajaran matematika di Indonesia memang masih menekankan menghapal rumus-rumus dan menghitung, bahkan gurupun otoriter dengan keyakinannnya pada rumus-rumus atau pengetahuan matematika yang sudah ada (dalam Zakaria, 2014).
Pendapat di atas di perkuat dengan hasil survei yang dilakukan oleh IMSTEP-JICA (Develovement Of Science And Mathematics Teaching For Primary And Second Educations di indonesia (IMSTEP) - Japan International Cooperation Agency (JICA) bahwa rendahnya hasil belajar siswa dikarenakan pada proses pembelajaran matematika guru terlalu berkonsentrasi pada latihan penyelesaian soal.
Berdasarkan pendapat dan hasil survey tersebut maka terlihat bahwa sebagian besar proses pembelajaran di indonesia masih berpusat pada guru dan  menekankan pada latihan soal tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir, memahami, menemukan dan mengembangkan sendiri konsep yang di ajarkan.  Hal tersebut mengakibatkan kualitas pendidikan di indonesia rendah dan pendidikan di indonesia akan tertinggal dari Negara lain dan kurang berprestasi di kancah internasional.
Terlihat dari hasil survey yang dilakukan TIMSS dan PISA terhadap beberapa siswa di indonesia dengan kemampuan literasi dalam bidang matematika, posisi indonesia masih di bawah standar internasional jauh di bawah rata-rata internasional, dan setiap tahun mengalami penurunan.
Hasil TIMSS (Trends International Mathematics and Science Study), yang diterbitkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan memperlihatkan bahwa skor yang diraih Indonesia masih di bawah skor rata-rata internasional. Hasil studi TIMSS pada tahun 2003 Indonesia menempati posisi ke 35 dari 46 negara peserta dengan skor rata-rata yang diraih 411, sedangkan skor rata-rata internasional 467.
Hasil studi TIMSS pada tahun 2007, Indonesia menempati peringkat ke 36 dari 49 negara yang berpartisipasi dengan skor rata-rata 397, sedangkan skor rata-rata internasional 500.  Dan hasil TIMSS pada tahun 2011 Indonesiia berada pada peringkat 38 dari 42 negara yang berpartisipasi dengan skor rata-rata internasional 500. (IEA, 2012)
Hasil Penelitian yang dilakukan PISA (Programme for International Student Assessment ) tentang kemampuan literasi matematika, pada tahun 2003 indonesia berada pada peringkat 38 dengan skor rata-rata 360, sedangkan skor rata-rata internasional 500, hasil studi  PISA pada tahun 2006, indonesia berada di peringkat ke 50 dari 57 negara yang berpartisipasi, dengan skor rata-rata 391, sedangkan skor rata-rata international 500 (Kemendikbud, 2011), Hasil studi PISA pada 2009, indonesia berada di peringkat ke 61 dari 65 negara yang berpartisipasi dengan skor rata-rata 371, sedangkan skor rata-rata international 500, hasil studi PISA pada 2012, indonesia berada di peringkat ke 64 dari 65 negara yang berpartisipasi dengan skor rata-rata 375, sedangkan skor rata-rata international 500.
Dari hasil survey tersebut terlihat bahwa kemampuan literasi di bidang matematika siswa di Indonesia sangat rendah dan di bawah standar rata-rata internasional. Untuk meningkatkan kembali prestasi indonesia di kancah internasional maka harus ada perubahan salah satu perubahan yang efektif yaitu terjadi pada cara mengajar dan metode mengajar yang di gunakan guru. 
Banyak Guru di indonesia yang kurang menguasai metode mengajar yang bervariasi, salah satunya guru matematika, banyak guru matematika yang cenderung menggunakan metode mengajar yang membosankan dan menciptakan suasana tegang dengan menyajikan secara langsung rumus-rumus yang rumit serta pembelajaran yang masih terpusat pada guru, sehingga siswa hanya menyerap dan mendengarkan apa yang dikatakan guru tanpa ada usaha untuk menyelesaikan bahkan membuat konsep dalam penyelesaian masalah, sehingga pembelajaran berlangsung tidak bermakna.
Pembelajaran matematika akan berlangsung lancar dan bermakna jika terjadi pembelajaran yang aktif serta komunikasi antara guru dan siswa berlangsung dengan lancar selain itu siswa harus memiliki kemampuan pemahaman konsep matematika, sehingga dengan siswa memiliki kemampuan tersebut maka siswa tidak akan menganggap matematika itu sulit.
Banyak sekali metode pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru, seperti metode pembelajaran Example non Example. Metode ini sangat cocok untuk perkembangan siswa karena metode ini menggunakan media gambar pada saat pembelajaran. Media gambar merupakan salah satu alat yang digunakan dalam proses belajar mengajar yang dapat membantu mendorong siswa lebih melatih diri dalam mengembangkan pola pikirnya. Sehingga dalam kegiatan pembelajaran siswa diharapkan akan aktif termotivasi untuk belajar dan dapat membantu siswa dalam memahami konsep. Sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.
Hal ini sejalan dengan pendapat Ausubel yang mengatakan “bahan pelajaran yang dipelajari haruslah bermakna (meaning full)”. Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang, dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa. Oleh karena itu pelajaran harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah dimiliki siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benar-benar terserap olehnya.
Pembelajaran dengan menggunakan metode Example non Example dengan gambar sebagai media pembelajaran dapat bermanfaat secara fungsional bagi semua siswa dan dapat membantu siswa dalam memahami konsep terlebih materi yang membutuhakan gambar secara real.
 Berdasarkan permasalahan tersebut penulis ingin meneliti serta membahas mengengai bagaimana pengaruh model pembelajaran Example non Example Terhadap peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Pada Materi Bangun Ruang Sisi Datar.

1.2    Rumusan Masalah :
Berdasarkan latar belakang diatas adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
Bagaimana pengaruh model pembelajaran Example non Example terhadap Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Pada Materi Bangun Ruang Sisi Datar.

1.3    Tujuan
Tujuan dalam penelitian kali ini yaitu untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Example non Example terhadap Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Pada Materi Bangun Ruang Sisi Datar

1.4    Manfaat :
Bagi penulis : Untuk mengetahui Pengaruh model pembelajaran Example non Example terhadap kemampuan pemahaman konsep matematis SMP siswa sehingga kelak bisa diterapkan oleh peneliti sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan kemampuan pemahaman konsep matematis.
Bagi siswa : untuk mengetahui, pengaruh model pembelajaran Example non Example terhadap peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa SMP. Sehingga siswa bisa meningkatkan kemampuan tersebut.
Bagi guru : menjadi salah satu referensi dan pertimbangan dalam meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis dengan model pembelajaran Example non Example.
1.5 Batasan Masalah :
Batasan masalah pada penelitian kali ini yaitu :  
1.    Perbedaan hasil belajar matematika siswa yang diberi perlakuan dengan mengunakan model pembelajaran examples non examples dengan metode belajar konvensional.
2.    Penelitian dilakukan pada Siswa SMP
3.    Penelitian dilakukan pada materi bangun datar pada semester genap.

1.6 Definisi Operasional :
Untuk memperoleh pengertian yang benar dan untuk menghindari kesalahan pemahaman judul penelitian ini, maka akan diuraikan secara singkat beberapa istilah-istilah sebagai berikut :
a.         Examples Non Examples adalah Model pembelajaran yang membelajarkan kepekaan siswa terhadap permasalahan yang ada disekitar melalui analisis contoh-contoh berupa gambar-gambar/foto/kasus yang bermuatan masalah.
b.        Kemampuan Pemahaman konsep adalah Kemampuan yang dimiliki seseorang dalam memahami suatu konsep, yang mana konsep tersebut didapat dari pemahamannya sendiri, kemudian mengkomunikasikannya kepada oranglain sehingga orang lain mengetahui dan juga mengerti apa yang disampaikan.
c.         Bangun ruang sisi datar yang dimaksud disini adalah bangun ruang yang memiliki sisi, titik sudut, serta diagonal

1.7 Hipotesis.
Hipotesis dalam penelitian kali ini adalah adanya pengaruh positif model pembelajaran Example non Example terhadap kemampuan pemahaman konsep matematis siswa.




















BAB II
KAJIAN TEORI

2.1    Pemahaman Konsep Matematika
Menurut Sumarmo Pemahaman diartikan dari kata understanding. Derajat pemahaman ditentukan oleh tingkat keterkaitan suatu gagasan, prosedur atau fakta matematika dipahami secara menyeluruh jika hal-hal tersebut membentuk jaringan dengan keterkaitan yang tinggi. Dan menurut Depdiknas konsep diartikan sebagai ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan sekumpulan objek (dalam Nila, 2008).
Pemahaman konsep sangat penting, karena dengan penguasaan konsep akan memudahkan siswa dalam mempelajari matematika. Pada setiap pembelajaran diusahakan lebih ditekankan pada penguasaan konsep agar siswa memiliki bekal dasar yang baik untuk mencapai kemampuan dasar yang lain seperti penalaran, komunikasi, koneksi dan pemecahan masalah.
Penguasan konsep merupakan tingkatan hasil belajar siswa sehingga dapat mendefinisikan atau menjelaskan sebagian atau mendefinisikan bahan pelajaran dengan menggunakan kalimat sendiri. Dengan kemampuan siswa menjelaskan atau mendefinisikan, maka siswa tersebut telah memahami konsep atau prinsip dari suatu pelajaran meskipun penjelasan yang diberikan mempunyai susunan kalimat yang tidak sama dengan konsep yang diberikan tetapi maksudnya sama.
Menurut Sanjaya (dalam Media Harja, 2012) mengatakan apa yang di maksud pemahaman konsep adalah kemampuan siswa yang berupa penguasaan sejumlah materi pelajaran, dimana siswa tidak sekedar mengetahui atau mengingat sejumlah konsep yang dipelajari, tetapi mampu mengungkapan kembali dalam bentuk lain yang mudah dimengerti, memberikan interprestasi data dan mampu mengaplikasikan konsep yang sesuai dengan struktur kognitif yang dimilikinya.
Pemahaman konsep merupakan salah satu kecakapan atau kemahiran matematika yang diharapkan dapat tercapai dalam belajar matematika yaitu dengan menunjukkan pemahaman konsep matematika yang dipelajarinya, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah (Depdiknas, 2003: 2).
Berdasarkan uraian diatas, penulis dapat menyimpulkan definisi pemahaman konsep adalah Kemampuan yang dimiliki seseorang dalam memahami suatu konsep, yang mana konsep tersebut didapat dari pemahamannya sendiri, dan dijadikan sebagai dasar atau pegangan bagi dirinya sendiri dalam mengaplikasikan konsep tersebut ke dalam bentuk yang berbeda.
Mengingat pentingnya pemahaman konsep tersebut, Menurut Hiebert dan Carpenter (dalam Dafril: 2011) Pengajaran yang  menekankan kepada pemahaman mempunyai sedikitnya lima keuntungan, yaitu:
1.        Pemahaman memberikan generative artinya bila seorang telah memahami suatu konsep, maka pengetahuan itu akan mengakibatkan pemahaman yang lain karena adanya jalinan antar pengetahuan yang dimiliki siswa sehingga setiap pengetahuan baru melaui keterkaitan dengan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.
2.        Pemahaman memacu ingatan artinya suatu pengetahuan yang telah dipahami dengan baik akan diatur dan dihubungkan secara efektif dengan pengetahuan-pengetahuan yang lain melalui pengorganisasian skema atau pengetahuan secara lebih efisien di dalam struktur kognitif berfikir sehingga pengetahuan itu lebih mudah diingat.
3.        Pemahaman mengurangi banyaknya hal yang harus diingat artinya jalinan yang terbentuk antara pengetahuan yang satu dengan yang lain dalam struktur kognitif siswa yang mempelajarinya dengan penuh pemahaman merupakan jalinan yang sangat baik.
4.        Pemahaman meningkatkan transfer belajar artinya pemahaman suatu konsep matematika akan diperoleh siswa yang aktif menemukan keserupaan dari berbagai konsep tersebut. Hal ini akan membantu siswa untuk menganalisis apakah suatu konsep tertentu dapat diterapkan untuk suatu kondisi tertentu.
5.        Pemahaman mempengaruhi keyakinan siswa artinya siswa yang memahami matematika dengan baik akan mempunyai keyakinan yang positif yang selanjutnya akan membantu perkembangan pengetahuan matematikanya.
Dari uraian diatas di peroleh bahwa pemahaman konsep memiliki peranan yang penting dalam kegiatan belajar siswa, dengan memiliki kemampuan pemahahaman konsep siswa akan lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran dan dapat mengeneralisasikan pengetahuan yang ia dapat kedalam bentuk lainnya sehingga siswa akan mengingat lebih lama materi pelajaran yang di ajarkan karena ia menemukan sendiri konsep yang di ajarkan.
Kemampuan siswa dalam memahami konsep matematika perlu dilakukan dengan penilaian terhadap pemahaman konsep dalam pembelajaran matematika. Dalam penelitian kali ini menggunakan indikator kemampuan pemahaman konsep sebagai hasil belajar matematika yang dicantumkan pada petunjuk teknis Peraturan Dirjen Dikdasmen Depdiknas no. 506/C/PP/2004tanggal 11 November 2004 (dalam Tim PPPG Matematika 2005:86) Indikator tersebut adalah :
1.        Kemampuan menyatakan ulang sebuah konsep adalah kemampuan siswa untuk mengungkapkan kembali apa yang telah dikomunikasikan kepadanya;
2.        Kemampuan mengklafikasikan objek menurut sifat-sifat tertentu sesuai dengan konsep adalah kemampuan siswa mengelompokkan suatu objek menurut jenisnya berdasarkan sifat-sifat yang terdapat dalam materi.
3.        Kemampuan member contoh dan bukan contoh adalah kemampuan siswa untuk dapat membedakan contoh dan bukan contoh dari suatu materi.
4.        Kemampuan menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematika adalah kemampuan siswa memaparkan konsep secara berurutan yang bersifat matematis.
5.        Kemampuan mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari suatu konsep adalah kemampuan siswa mengkaji mana syarat perlu dan mana syarat cukup yang terkait dalam suatu konsep materi.
6.        Kemampuan menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur tertentu adalah kemampuan siswa menyelesaikan soal dengan tepat sesuai dengan prosedur.
7.        Kemampuan mengklafikasikan konsep atau algoritma ke pemecahan masalah adalah kemampuan siswa menggunakan konsep serta prosedur dalam menyelesaikan soal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Pendapat diatas sejalan dengan Peraturan Dirjen Dikdasmen Nomor 506/C/Kep/PP/2004 tanggal 11 November 2001 tentang rapor pernah diuraikan bahwa indikator siswa memahami konsep matematika adalah mampu :
1.        Menyatakan ulang sebuah konsep,
2.        Mengklasifikasi objek menurut tertentu sesuai dengan konsepnya,
3.        Memberikan contoh dan bukan contoh dari suatu konsep,
4.        Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis,
5.        Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari suatu konsep,
6.        Menggunakan dan memanfaatkan  serta memilih prosedur atau operasi tertentu,
7.        Mengaplikasikan konsep atau algoritma dalam pemecahan masalah. 

2.1    Model Pembelajaran Example non Example
Model Example non Example adalah strategi pembelajaran yang menggunakan media gambar dalam penyampaian materi pembelajaran yang bertujuan mendorong siswa untuk belajar berfikir kritis dengan jalan memecahkan permasalahan-permasalahan yang terkandung dalam contoh-contoh gambar yang disajikan. Model pembelajaran Example non Example juga di tunjukan untuk mengajarkan siswa dalam belajar memahami dan menganalisis sebuah konsep.
Example Non-Example adalah startegi yang dapat digunakan untuk mengajarkan definisi sebuah konsep (Miftahul Huda, 2013 : 234)
Menurut Buehl (1996) dalam Apariani dkk, (2010:20) menjelaskan bahwa examples non examples adalah taktik yang dapat digunakan untuk mengajarkan definisi konsep.  Taktik ini bertujuan untuk mempersiapkan siswa secara cepat dengan menggunakan 2 hal yang terdiri dari examples dan non examples dari suatu definisi konsep yang ada dan meminta siswa untuk mengklasifikasikan keduanya sesuai dengan konsep yang ada. Examples memberikan gambaran akan sesuatu yang menjadi contoh akan suatu materi yang sedang dibahas, sedangkan non Examples memberikan gambaran akan sesuatu yang bukanlah contoh dari suatu materi yang sedang dibahas.
Model Pembelajaran Examples non Examples menggunakan gambar sebagai media pembelajaran. Media gambar merupakan salah satu alat yang digunakan dalam proses pembelajaran yang dapat membantu mendorong siswa untuk menemukan dan mengembangkan konsepnya sendiri. Dengan menerapkan media gambar diharapkan dalam pembelajaran dapat bermanfaat secara fungsional bagi semua siswa, sehingga dalam kegiatan pembelajaran siswa akan aktif dan semangat untuk belajar. 
Examples non examples merupakan model pembelajaran dengan mempersiapkan gambar, diagram, atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi, sajian gambar ditempel atau memakai LCD/OHP, dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian, diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi, presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan, evaluasi, dan refleksi (Roestiyah. 2001: 73).
Sementara itu, Slavin dalam Djamarah, (2006: 1)  dijelaskan bahwa Examples Non Examples adalah model pembelajaran yang menggunakan contoh. Contoh-contoh dapat diperoleh dari kasus atau gambar yang relevan dengan Kompetensi Dasar.
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa model pembelajaran Example non Example adalah model pembelajaran yang menggunakan media dalam pembelajarannya. Media disini merupakan suatu gambar, diagram, atau tabel yang digunakan sebagai pengantar bagi siswa dalam memahami materi matematika yang diajarkan. Dengan menggunakan gambar siswa dapat melihat dan terdorong untuk mengamati, menganalisis, mengembangkan konsepnya sendiri serta menimbulkan rasa semangat pada siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Terdapat langkah-langkah dalam Dalam Model Pembelajaran Examples Non Examples. Menurut Miftahu Huda (2013:235) langkah-langkah penerapan model pembelajaran Example non Example dapat dilakukan sebagai berikut :
1.        Guru menyiapakan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
2.        Guru menempelkan gambar di papan tulis atau ditayangkan lewat OHP
3.        Guru membentuk kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari 2-3 siswa.
4.        Guru memberikan petunjuk dan member kesempatan kepada setiap kelompok untuk memperhatikan dan/atau menganalisis gambar.
5.        Mencatat hasil diskusi dari analisis gambar pada kertas.
6.        Member kesempatan bagi tiap kelompok untuk mebacakan hasil dikusinya.
7.        Berdasarkan komentar atau hasil diskusi siswa, guru menjelaskan materi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
8.        Penutup.
Menurut buehl (1996), model pembelajaran Example non Example melibatkan siswa untuk :
1.        Menggunakan sebuah contoh untuk memperluas pemahaan sebuah konsep dengan lebih mendalam dan lebih kompleks.:
2.        Melakukan proses discovery (penemuan), yang mendorong mereka membangun konsep secara progresif melalui pengalaman langsung terhadap contoh-contoh yang mereka pelajari;
3.        Mengeksplorasi karakteristik dari suatu konsep dengan mempertimbangkan bagian non example yang dimungkinkan masih memiliki karakteristik yang telah di paparkan pada bagian example.
Model pembelajaran Examples Non Examples mempunyai beberapa keuntungan. Menurut Buehl (1996) keuntungan dari Model Pembelajaran Examples Non Examples antara lain adalah sebagai berikut :
1.        Siswa berangkat dari satu definisi yang selanjutnya digunakan untuk memperluas pemahaman konsepnya yang lebih mendalam dan komplek.
2.        Siswa terlibat dalam suatu konsep discovery (penemuan), yang mendorong mereka untuk membangun konsep secara progresif melalui pengalaman examples non examples.
3.        Siswa diberi sesuatu yang berlawanan untuk mengeksplorasi karakteristik dari suatu konsep dengan mempertimbangkan bagian non examples yang dimungkinkan masih terdapat beberapa bagian yang merupakan suatu karakter dari konsep yang telah dipaparkan pada bagian examples.
Selain beberapa keuntungan seperti di atas, model pembelajaran ini juga mempunyai kekurangan. Adapun kekurangan dari model pembelajaran Examples Non Examples akan dijelaskan sebagai berikut.
Kekurangan dari Model Pembelajaran Examples Non Examples :
1.        Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar.
2.        Memakan waktu yang lama.

2.3    Penelitian yang relevan
Beberapa hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah ;
1.        Hasil penelitian dari Ikha Malikha (2012) mengungkapkan bahwa metode example non example berpengaruh terhadap penguasaan konsep matematika kelas VIII SMP Negeri 1 Kabupaten Cirebon. Hal ini ditunjukan dengan hasil pengujian Hipotesis sebesar 3,536  dan ttabel sebesar 2,024.  Yang berarti yang berarti .
2.        Joko Susilo (2010) Mengungkapkan Bahwa Model pembelajaran Example Non Example berpengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas X di SMA Negeri  1 Pajar Bulan. Hal ini ditunjukan dengan hasil tes siswa kelas eksperiment yang menggunakan model pembelajaran Example non Example yaitu kelas X1 mendapat nilai rata-ratanya adalah 67,63, Sedangkan hasil tes siswa kelas kelas control yaitu X2 yang menggunakan pembelajaran konvensional. Mendapat nilai rata-ratanya adalah 63,17. Dengan demikian dapat diketahui bahwa selisih rata-rata nilai siswa kelas X1 dan nilai siswa kelas X2 adalah 4,46. Dan didapat Didapat thitung = 24,31 dan ttabel = 1,671 yang berarti .
3.        Damiyati (2012) mengungkapkan bahwa Model pembelajaran Example non Example pada meteri bangun datar kelas VII MTsN Karangrejo Tulungagung memberikan pengaruh positif terhadap hasil belajar matematika. Hal ini ditunjukan dengan hasil hitung dengan nilai  yaitu 3,313 > 1,671 .
4.        Nurul Astuty Yensy. B (2012) mengungkapkan bahwa Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Example non Example menggunakan alat peraga pada pokok bahasan kubus dan balok dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII SMP N 1 Argamakmur.  Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Example non Example menggunakan alat peraga pada pokok bahasan kubus dan balok dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas VIII SMP N 1 Argamakmur.

Persamaan penelitian ini dengan keempat penelitian diatas yaitu dalam proses pembelajaran di kelas model yang digunakan adalah model pembelajaran Example non Example, dan persamaan dengan penelitian Ikha Malikha (2012) yaitu variable bebas, dimana pada penelitian tersebut variable bebas yang di gunakan yaitu pemahaman konsep matematika SMP, sedangkan perbedaan dengan penelitian yang dilakukan Joko Susilo (2010), Damiyati (2012) dan Nurul Astuty Yensy. B (2012) yaitu pada variable bebas, dimana pada penelitian tersebut variable bebas yang di gunakan yaitu hasil belajar matematika, untuk penelitan yang Damiyati (2012) dan Nurul Astuty Yensy. B (2012) terhadap hasil belajar matematika siswa SMP, dan untuk penelitian yang Joko Susilo (2010) terhadap hasil belajar siswa SMA sedangkan dalam penelitian ini variable bebas yang digunakan yaitu kemampuan pemahaman konsep matematis siswa SMP.











BAB III
METODE PENELITIAN

3.1    Tempat, waktu dan subjek penelitian
Tempat yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah SMPN 5 Kota serang. Penelitian dilaksanakan pada tahun ajaran 2016/2017.

3.2    Metode dan Desain Penelitian
Metode penelitan dalam penelitian ini adalah metode kuasi eksperimen karena individu tidak dipilih secara acak melainkan peneliti menerima subjek seadanya ( Ruseffendi, 2005: 52).
Pada penelitian ini akan digunakan desain penelitian control non ekuivalen. Jenis desain ini subjek di kelompokkan tidak secara acak. Pada jenis desain ini menggunakan dua kelas, satu kelas sebagai kelas eksperimen dan satu kelas sebagai kelas control. Kelas eksperimen akan mendapatkan perlakukan yaitu pembelajaran menggunakan model pembelajaran Example non Example , sedangkan kelas control mendapat pembelajaran secara konvensional.
Dengan demikian desain penelitian ini sebagai berikut ;


Eksperimen     0          x          0

------------------------------
Kontrol            0          x          0
 
 






Keterangan :
0        : Pretest dan postes
X   : Perlakuan ( Model Pembelajaran Example non Example)
---  : subjek tidak dipilih secara acak tetap I menggunakan yang sudah ada.

3.3    Variabel Penelitian
Variabel penelitian kali ini terdiri atas dua jenis, yaitu Variabel bebas (independent) dan Variabel terikat (dependent). Variabel bebas merupakan keadaan perlakuan yang menunjukkan keadaan subjek, variabel ini merupakan variabel yang dikontrol dan dimanipulasi oleh peneliti. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran examples non examples, yang selanjutnya disebut dengan variabel x. Variabel terikat disebut juga variabel tergantung, variabel yang dipengaruhi, atau variabel yang diramalkan (predicted variable). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis.

3.4    Populasi dan Sample Penelitian
Populasi adalah himpunan semua individu atau objek yang menjadi bahan studi oleh peneliti. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII SMP. Sampel dipilih dari kelas yang sudah ada dikelas tersebut, pengambilan sampel dilakukan secara berkelompok karena pengambilan sampel secara acak yang didasarkan kepada kelompok, tidak didasarkan kepada anggota-anggotanya.

3.5    Sumber Data dan Variabel Data
1.        Sumber Data
Data adalah hasil pencatatan peneliti, baik yang berupa fakta ataupun angka. Data menurut sumbernya digolongkan menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder.
a.         Data primer
Sumber data primer adalah sumber pertama dimana sebuah data dihasilkan. Data yang dihasilkan dari sumber data primer adalah data primer. Sumber data yang digunakan oleh peneliti sebagai sumber data primer adalah dokumen mengenai nilai siswa, nilai post test sebagai ulangan harian.
b.        Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah sumber data kedua setelah sumber data primer.. Sumber data sekunder yang digunakan oleh peneliti adalah guru matematika kelas VIII SMP. Peneliti memilih guru kelas sebagai sumber data dengan alasan guru kelas tersebut dapat diwawancarai terkait kemampuan siswa, keaktifan siswa dan kreatifitas siswa pada pembelajaran pada hari biasa sebelum adanya penelitian. Melalui guru, peneliti bisa mendapatkan dokumen-dokumen tentang hasil belajar siswa sebelum diadakannya penelitian.

2.    Variabel Data
Skala Pengukuran Data
Skala pengukuran data yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah skala data yang digunakan untuk hasil belajar matematika siswa berupa skala nominal yang diperoleh dari nilai post test.

3.6    Instrumen Penelitian
3.6.1      Tes
Tes yang akan dilakukan pada penelitian kali ini berupa pretest dan posttest, pretes dilakukan sebelum pembelajaran dimulai yang bertujuan untuk mengetahui sampai dimana pemahaman konsep siswa terhadap materi yang diajarkan, dengan kata lain pretes dialkukan untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum perlakuan dilakukan. Postes diberikan pada akhir pembelajaran, dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan pemahaman konsep siswa terhadap materi yang telah diajarkan setelah mengalami suatu kegiatan pembelajaran, dengan kata lain postes dilakukan untuk mengukur kempuan akhir siswa setelah mendapat perlakuan.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan instrumen pengumpulan data berupa soal tes yang merupakan instrumen dari metode tes hasil belajar. Instrumen pengumpulan data tersebut berupa soal bentuk uraian. Peneliti menggunakan bentuk uraian dengan tujuan agar siswa dapat menguraikan dan menyatakan jawaban dengan kata-kata sendiri dalam bentuk, teknik dan gaya yang berbeda satu dengan yang lainnya. Sebelum pedoman tes yang berupa soal-soal tes ini digunakan, terlebih dahulu peneliti mengujicobakan soal tersebut untuk memastikan validitas, reliabilitas, daya pembeda, indeks kesukaran soal tes. sehingga diharapkan soal yang digunakan benar-benar dapat mengukur hasil belajar siswa.
1.        Validitas
Validitas instrumen adalah derajat yang menunjukkan dimana suatu tes mengukur apa yang hendak diukur.Validitas isi (content validity) adalah pengujian validitas dilakukan atas isinya untuk memastikan apakah butir tes hasil belajar mengukur secara tepat keadaan yang ingin diukur. Pengujian validasi dapat dilakukan dengan meminta pertimbangan ahli (expert judgenent). Orang yang memiliki kompetensi dalam suatu bidang dapat dimintakan pendapatnya untuk menilai ketepatan isi butir Tes Hasil Belajar. Butir-butir yang mengukur materi sebagaimana dipahami dan disepakati oleh ahli, profesional atau penilai dapat dinyatakan sebagai butir-butir Test Hasil Belajar yang valid.
a.         Validitas teoritik
Menurut suherman valididtas teoritik atau validitas logic adalah validitas alat evaluasi yang dilakukan berdasarkan pertimbangan (judgement) teoritik atau logika. Agar hasil pertimbangan tersebut memadai sebaiknya dilakukan oleh para ahli dalam hal tersebut. Konsultasi dilakukan pada guru atau dosen pembimbing.
Hal-hal yang harus di perhatikan pada validitas teoritik ini antara lain validitas isi, validitas muka dan validitas konstruksi. Suatu tes matematika dikatakan memiliki validitas isi apabila dapat mengukur kompetensi dasar yang telah dirumuskan. Ini berarti bahan tersebut sesuai dengan standar kompetensi, dan buku sumber serta kegiatanbelajar mengajar yang telah dilaksanakan
b.        Validitas Empirik
Validitas empiric atau validitas kriterium merupakan validitas yang ditinjau dalam hubungannya dengan kriterium. Uji validitas ini digunakan untuk menentukan tinggi rendahnya koefisien. Validitas alat evaluasi yang di buat melalui perhitungan korelasi. Salah satu cara untuk mencari validitas adalah dengan menggunakan rumus korelasi product-moment. Penggunaan product moment effektif bila data yang di uji keduanya berbentuk kontinu, normal dan linier
Korelasi product moment dapat dirumuskan sebagai berikut ;


 



dimana :
rxy           =          koefisien korelasi
N         =          banyaknya subyek
X         =          skor tiap butir soal
Y         =          skor total

Setelah diperoleh koefisisen korelasi, langkah selanjutnya adalah dengan menguji signifikansi koefisien korelasi tersebut. Salah satu cara menguji signifikansi koefisien korelasi adalah dengan menggunakan uji-t dengan rumus sebagai berikut :

Keterangan :
r   : koefisien korelasi
n  : Jumlah responden

2.        Reliabilitas
Reliabilitas soal merupakan ukuran yang menyatakan tingkat keajegan atau kekonsistenan suatu soal tes. Suatu soal disebut ajeg atau konsisten apabila soal tersebut menghasilkan skor yang relatif sama meskipun diujikan berkali-kali. Reliabilitas soal dapat diketahui dengan rumus berikut:


 


(Suherman,2001 : 163)
Keterangan :
r11         : Reabilitas Instrument
n          : Banyaknya butir soal
          : Jumlah Varians Skor tiap-tiap item
St2          : Varians Total 

3.        Indeks Kesukaran
Bilangan yang menunjukan sukar atau mudahnya suatu soal disebut indeks kesukaran (difficulty index). Untuk menghitung indeks kesukaran tiap butir soal dapat dihitung mengunakan rumus sebagai berikut :

(Nasoetion et al.2007:5.25)

Keterangan :
                  : Jumlah skor kelompok atas
                  : Jumlah skor kelompok bawah
N                     : 25% peserta didik
          : Skor maksimum setiap butir tes
           : Skor minimum setiap butir tes

Dengan kriteria indeks kesukaran :
Indeks Kesukaran
Klasifikasi
IK = 0.00
Terlalu sukar
0.00 < IK  0.30
Sukar
0.30 < IK  0.70
Sedang
0.70 < IK < 1.00
Mudah
IK= 1.00
Terlalu Mudah
(Suherman,2001 : 190)
4.        Daya Pembeda
Daya pembeda sebuah butir soal adalah Kemampuan butir soal untuk membedakan antara testi (siswa) yang pandai atau berkemampuan tinggi dengan siswa yang bodoh. (Suherman, 2001 : 175)

(Nasoetion et al.2007:5.25)
Keterangan :
                  : Jumlah skor kelompok atas
                  : Jumlah skor kelompok bawah
N                     : 25% peserta didik
          : Skor maksimum setiap butir tes
           : Skor minimum setiap butir tes

Kriteria daya pembeda
Indeks Kesukaran
Klasifikasi
DP  0.00
 Sangat jelek
0.00 < DP  0.20
Jelek
0.20 < DP  0.40
cukup
0.40 < DP  0.70
Baik  
0.70 < DP  1.00
Sangat Baik
(Suherman,2001 : 177)

3.7    Prosedur Penelitian
Adapun prosedur yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Persiapan penelitian
a.    Mengajukan surat permohonan izin penelitian kepada pihak sekolah,
b.    Berkonsultasi dengan Kepala Sekolah dan guru bidang studi matematika dalam rangka observasi untuk mengetahui bagaiman aktifitas dan kondisi dari tempat atau objek penelitian.
2.    Pelaksanaan penelitian
Mempersiapkan perangkat mengajar, antara lain; Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), lembar kerja Siswa (LKS), absensi siswa, jurnal pembelajaran, buku paket matematika kelas VII, soal post test yang sebelumnya sudah diuji cobakan, dan daftar nilai.
      
3.        Melaksanakan kegiatan belajar mengajar
Kegiatan belajar mengajar ini dilaksanakan pada dua kelas yang dijadikan sampel penelitian, yaitu kelas pertama sebagai kelas eksperimen yang diajar dengan model model pembelajaran examples non examples dan kelas kedua sebagai kelas kontrol yang diajar dengan metode konvensional.

4.        Melaksanakan tes
Tes dilaksanakan untuk mengetahui pemahaman siswa yang diajar dengan pembelajaran yang berbeda. Tes ini dilaksanakan satu kali yaitu post dilakukan untuk mengetahui hasil belajar setelah mendapatkan perlakuan berbeda.

5.        Penulisan laporan
Tahap terakhir merupakan tahap yang paling penting dalam proses pelaksanaan penelitian adalah tahap menulis laporan hasil penelitian . melaporkan hasil penelitian akan menentukan bagaimana proses penyebaran pengalaman penelitian berlangsung secara semestinya di masyarakat luas.












3.8    Tahapan Penelitian


 


















 
























3.9    Analisis data
3.9.1         Analisis Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriftif dilakukan untuk menampilkan informasi secara statistik dari variable-variabel yang terdaftar. Informasi statistic ini akan di sajikan dalam berbagai bentuk data. Analisis ini di lakukan untuk mengetahui data hasil dan postes yang meliputi data statistic mengenai mean, median, varians, dan lain-lain. Cara-cara penyajian dalam bentuk statistic deskriftif yaitu dengan tabel baisa maupun tabel distribusi frekuensi, grafik garis maupun batang, diagram lingkaran, pictogram, penjelasan kelompok  melalui modus, median, mean dan varians kelompok melalui rentang dan simpangan baku.
3.9.2        Analisis Statistik Inferensial
1.        Uji Prasyarat
Uji prasyarat dilakukan untuk menentukan statistic yang digunakan dalam mengolah data hasil tes yaitu parametric atau non parametric. Pada uji prasyarat ini dua hal yang dilakukan yaitu, uji normalitas dan uji homogenitas.
a)        Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui kenormalan sebaran data penelitian. Pengujian normalitas ini dilakukan dengan rumus chi kuadrat yaitu :
                                                            (Sugiyono, 2007: 107)
Keterangan
        : Chi Kuadrat
         : Frekuensi/jumlah data hasil observasi
         : Jumlah/frekuensi yang diharapkan

Hipotesis yang diajukan adalah :
Ho       : Data berasal dari distribusi normal
Ha       : Data tidak berasal dari distribusi normal


b)        Uji Homogenitas
Jika data berdistribusi normal, maka analisis data dilanjutkan dengan uji homogenitas. Uji Homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh memiliki varian yang homogen atau tidak. Uji homogenitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji F. adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut ;
1)        Merumuskan Hipotesis
 (Varians kedua homogen)
 (Varians kedua tidak homogen)

2)        Menentukan taraf nyata untuk pengujian yakni
3)        Perhitungan uji
a)         Menurut riduwan (dalam ayu 2012 : 41) yang digunakan untuk menentukan nilai F hitung adalah sebagai berikut :
b)        Menentukan F tabel
Dimana :
V1 = dk pembilang = n – 1 (untuk varians terbesar)
V2 = dk penyebut = n – 1 (untuk varians terkecil)
Jika dk pembilang dan penyebut yang dimaksud tidak tertera pada tabel ditribusi F, maka Ftabel dapat dicari dengan rumus interpolasi
Keterangan :
B : nilai dk yang dicari
Bo : nilai dk pada awal nilai yang sudah ada
B1 : nilai dk pada akhir nilai yang sudah ada
C : nilai f tabel yang dicari
Co : nilai F tabel pada awal nilai yang sudah ada
C1 nilai f tabel pada akhir nilai yang sudah dicari
4)        Menentukan keputusan dengan kriteria sebagi berikut :
Jika
Jika
5)        Membuat kesimpulan

c)        Uji Perbedaan Dua rata-rata
Uji perbedaan dua rata-rata dilakukan dengan menggunakan uji t. gunanya adalah untuk menguji kemampuan generalisasi (signifikansi hasil penelitian yang berupa perbandingan keadaan variable dari dua rata-rata sampel )
1)        Data Pretes
Uji perbedaan dua rata-rata data pretes dilakukan dengan menggunakan uji t dua pihak untuk mengetahui apakah kemampuan awal kelompok eksperimen dan kelompok control sama atau tidak. Langkah-langkah pengujiannya sebagai berikut:
a)        Merumuskan Hipotesis
 (Tidak terdapat perbedaan kemampuan pemahaman konsep matematis antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol)
 (Terdapat perbedaan kemampuan pemahaman konsep matematis antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol)
b)        Menentukan taraf nyata, yaitu
c)        Perhitungan uji  
1)   Mencari t hitung
a)    Jika normal dan Homogen
Polled Varians
b)      Jika data normal dan tidak homogen
Separated Varians
Keterangan :
        : Rata-rata sample 1
        : Rata-rata sample 2
      : Varians sample 1
      : Varians sample 2
        : Jumlah anggota sample 1
        : Jumlah anggota sample 2

d)       Menentukan Keputusan criteria
Jika ttabel  t hitung  t tabel maka  diterima.
e)        Membuat kesimpulan

2)        Data Postes
Uji perbedaan dua rata-rata data postes dilakukan dengan menggunakan uji t dua pihak yang dilanjutkan dengan uji t satu pihak untuk mengetahui apakah kemampuan pemahaman konsep matematis siswa kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok control atau tidak.
Langkah-langkah pengujiannya sebagai berikut :
a)        Merumuskan Hipotesis
 (Kemampuan pemahaman konsep matematis kelompok eksperimen lebih kecil atau sama dengan kelompok kontrol)
 (Kemampuan pemahaman konsep matematis kelompok eksperimen lebih besar dari kelompok kontrol)
b)        Menentukan taraf nyata, yaitu
c)        Perhitungan uji 
1)      Mencari t hitung
a)      Jika normal dan Homogen
Polled Varians

b)      Jika data normal dan tidak homogen
Separated Varians
Keterangan :
        : Rata-rata sample 1
        : Rata-rata sample 2
      : Varians sample 1
      : Varians sample 2
        : Jumlah anggota sample 1
        : Jumlah anggota sample 2

d)       Menentukan Keputusan criteria
Jika thitung  t tabel maka  diterima.
Jika thitung  t tabel maka  ditolak.
e)        Membuat kesimpulan

3.10 Prosedur Analisis Data
Prosedur analisis data dalam penelitian kali ini terbagi menjadi dua, yakni analisis data pretes dan analisis data postes. Analisis data pretes bertujuan untuk mengetahui keadaan kemampuan awal siswa pada kelompok eksperimen dan pada kelompok control.  Sedangkan analisis data postes dilakukan untuk mengetahui perbandingan nilai rata-rata kemampuan pemahaman konsep matematis siswa pada kelompok eksperimen dan pada kelompok control setelah di berikan pembelajaran matematika dengan perlakuan yang berbeda. Pada kelompok eksperimen di berikan perlakukan dengan menggunakan metode Example Non Example dan pada kelas control hanya di berikan pengajaran konvensional.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Z. (2014). Perbandingan Peningkatan Kemampuan Koneksi Matematis Siswa SMP Antara yang Mendapatkan Pembelajaran Menggunakan Strategi Konflik Kognitif Piaget dan Hasweh. Tesis pada Jurusan Pendidikan Matematika UPI Bandung: tidak diterbitkan. Di download : http://repository.upi.edu/6559/4/S_MTK_0905614_Chapter1.pdf  (23 April 2016)
Apriani, Atik dan David Indrianto. Implementasi model pembelajaran examples non examples. FKIP PGMI. IKIP PGRI SUMEDANG. 2010
Dafril, A. 2011. Pengaruh Pendekatan Konstruktivisme Terhadap Peningkatan Pemahaman Matematika Siswa. Tersedia :  http://mediaharja.blogspot.co.id/2015/08/pemahaman-konsep-matematika.html (17 April 2016)
Depdiknas. 2003. Pedoman Khusus Pengembangan Sistem Penilaian Berbasis  Kompetensi SMP . Jakarta: Depdiknas.
http://litbang.kemdikbud.go.id/index.php/survei-internasional-PISA (14 april 2016 ) 
http://litbang.kemdikbud.go.id/index.php/timss (14 april 2016 )
https://www.oecd.org/PISA/PISAproducts/46619703.pdf (14 april 2016 )
Irawati Ardi “ Model Pembelajaran Example Non Example” dalam http://irawatiardi.blogspot.co.id/2014/12/model-pembelajaran-example-non-example.html di akses (14 april 2016)

Ikha Malikha, 2012. Pengaruh Penerapan Metode Examples Non Examples Terhadap Penguasaan Konsep Matematika Siswa Pada Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Datar. Skripsi Institut Agama Islam Negeri (Iain) Syekh Nurjati Cirebon. Di download :
       http://web.iaincirebon.ac.id/ebook/repository/127350046_IKHA%20MALIKHA_58451114__ok.pdf (13 Maret 2016)

Joko Susilo. 2010. Pengaruh Penggunaan Metode Mengajar Examples Non  Examples Kelas X Terhadap Hasil Belajar Siswa Di Sma Negeri 1 Pajar Bulan Tahun Pelajaran 2010/2011. Skripsi Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (Stkip) Muhammadiyah Pagaralam. Di download : https://asmaditsaqib.files.wordpress.com/2014/01/pengaruh-penggunaan-metode-mengajar-examples-non-examples-kelas-x-terhadap-hasil-belajar-siswa-di-sma-negeri-1-pajar-bulan-tahun-pelajaran-20102011.pdf  (13 Maret 2016).
Huda, Miftahul (2013) Model-Model Pengajaran dan pembelajaran, Yogyakarta : Pustaka pelajar
Nasoetion, N. 2007. Evaluasi Pembelajaran Matematika. Jakarta : Universitas.
Nila Kesumawati. 2008. Pemahaman Konsep Matematik dalam Pembelajaran Matematika
Nurul Astuty Yensy. B (2012) ‘Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples Dengan Menggunakan Alat Peraga Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Di Kelas VIII Smp N 1 Argamakmur”. Vol. X No. 1, di download 6 juni 2016. http://repository.unib.ac.id.

Roestiyah. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Rueffendi, E.T (1998) Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetnsinya Dalam Pengajaran Matematika Untuk Meningkatkan CBSA, Bandung : Tarsito 

Media Harja (2012). Penerapan Model Pembelajaran Cooperatif Learning Dengan Media Pembelajaran Interaktif Berbasis Komputer Untuk Meningkatkan Representasi Dan Pemahaman Konsep Integral. Di lihat  di http://mediaharja.blogspot.co.id/2015/08/pemahaman-konsep-matematika.html (17 April 2016).


Sugiyono. (2007). Statistika Untuk Penelitian. Alfabeta : Bandung
Suherman, E. 2001. Evaluasi Proses dan Hasil Belajar Matematika, Modul 1-6. Jakarta : Untiversitas Terbuka.
Damiati (2012) Pengaruh Model Pembelajaran Examples Non Examples Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Pada Materi Bangun Datar Kelas Vii  Mtsn Karangrejo Tulungagung Semester Genap Tahun Ajaran 2012/2013. Skripsi Program Studi Tadris Matematika  Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri  (Stain) Tulungagung. Di download : http://repo.iain-tulungagung.ac.id/424/1/SKRIPSI%20lengkap%20%28damiati%29.pdf ( 13 Maret 2016).

3 komentar:

  1. Kk, boleh filenya ini dikirim ke e-mail saya kk
    desninatalina1925@gmail.com
    saya mau menuliskannya sebagai referensi tugas juga kk...

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. kak klw boleh aq juga minta dikirimin filenya ke e-mail

    sri.munawangi@gmail.com

    mohon bantuannya

    BalasHapus