Pengaruh
Model Pembelajaran Example Non Example
Terhadap Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Pada Materi
Bangun Ruang Sisi Datar
Proposal
( untuk memenuhi salah satu
tugas mata kuliah seminar pendidikan matematika )
Disusun oleh :
Yustika Nuramalina
Jurusan Pendidikan Matematika
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
belakang :
Matematika
merupakan bidang studi yang wajib dipelajari oleh semua siswa SD, SMP, SMA,
bahkan juga di Perguruan Tinggi. Hal ini dikarenakan kegunaan matematika itu
besar, baik sebagai ilmu pengetahuan, sebagai alat maupun sebagai pembentuk
sikap yang di harapkan.
Matematika
memegang peranan penting dalam pendidikan masyarakat baik sebagai objek
langsung ( fakta, keterampilan, konsep, prinsipel) maupun objek tak langsung
(berpikir kritis, sistematis, logis, kreatif, tekun, dan pemecahan masalah)
(Ruseffendi, 1998: 208).
Matematika adalah cabang
ilmu yang mendasari cabang ilmu lainnya. Semua ilmu menggunakan
matematika dalam pengembangannya. Matematika juga merupakan ilmu terapan,
matematika disebut ilmu terapan karena matematika sering diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari.
Banyak kegiatan
yang dilakukan dengan perhitungan matematika. Tapi, berdasarkan pengamatan di
lapangan, banyak orang yang tidak menyukai matematika dan menganggap metematika
itu sulit. Salah satu faktor yang dianggap menyebabkan hal tersebut terjadi
yaitu rendahnya kemampuan untuk memahami konsep matematika. Rendahnya kemampuan
pemahaman konsep matematika terjadi karena metode mengajar guru yang kurang
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan, menciptakan dan
menkomunikasikan ide yang dimiliki siswa dalam pemecahan suatu persoalan
matematika.
Hal tersebut
sejalan dengan pendapat Marjohan (dalam Zakaria, 2014) yang mengatakan “Sistem
pengajaran yang diterapkan oleh guru hanya mengulang-ulang serta sangat minim
kreativitas dalam mengembangkan seni mengajar”. Sejalan dengan pendapat Marjohan,
Wonosetya Budhi, dosen matematika dari Institut Teknologi Bandung mengatakan
“Pembelajaran matematika di Indonesia memang masih menekankan menghapal
rumus-rumus dan menghitung, bahkan gurupun otoriter dengan keyakinannnya pada
rumus-rumus atau pengetahuan matematika yang sudah ada (dalam Zakaria, 2014).
Pendapat di atas
di perkuat dengan hasil survei yang dilakukan oleh IMSTEP-JICA (Develovement Of Science And Mathematics
Teaching For Primary And Second Educations di indonesia (IMSTEP) - Japan International Cooperation Agency (JICA)
bahwa rendahnya hasil belajar siswa dikarenakan pada proses pembelajaran
matematika guru terlalu berkonsentrasi pada latihan penyelesaian soal.
Berdasarkan pendapat
dan hasil survey tersebut maka terlihat bahwa sebagian besar proses
pembelajaran di indonesia masih berpusat pada guru dan menekankan pada latihan soal tanpa memberikan
kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir, memahami,
menemukan dan mengembangkan sendiri konsep yang di ajarkan. Hal tersebut mengakibatkan kualitas pendidikan
di indonesia rendah dan pendidikan di indonesia akan tertinggal dari Negara
lain dan kurang berprestasi di kancah internasional.
Terlihat
dari hasil survey yang dilakukan TIMSS dan PISA terhadap beberapa siswa di
indonesia dengan kemampuan literasi dalam bidang matematika, posisi indonesia
masih di bawah standar internasional jauh di bawah rata-rata internasional, dan
setiap tahun mengalami penurunan.
Hasil
TIMSS (Trends
International Mathematics and Science Study),
yang diterbitkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
memperlihatkan bahwa skor yang diraih Indonesia masih di bawah skor rata-rata
internasional. Hasil studi TIMSS pada tahun 2003 Indonesia menempati posisi ke
35 dari 46 negara peserta dengan skor rata-rata yang diraih 411, sedangkan skor
rata-rata internasional 467.
Hasil studi TIMSS pada tahun 2007, Indonesia
menempati peringkat ke 36 dari 49 negara yang berpartisipasi dengan skor
rata-rata 397, sedangkan skor rata-rata internasional 500. Dan hasil TIMSS pada tahun 2011 Indonesiia
berada pada peringkat 38 dari 42 negara yang berpartisipasi dengan skor
rata-rata internasional 500. (IEA, 2012)
Hasil Penelitian yang dilakukan PISA (Programme
for International Student Assessment ) tentang kemampuan literasi matematika,
pada tahun 2003 indonesia berada pada peringkat 38 dengan skor rata-rata 360,
sedangkan skor rata-rata internasional 500, hasil studi PISA pada tahun 2006, indonesia berada di
peringkat ke 50 dari 57 negara yang berpartisipasi, dengan skor rata-rata 391,
sedangkan skor rata-rata international 500 (Kemendikbud, 2011), Hasil studi
PISA pada 2009, indonesia berada di peringkat ke 61 dari 65 negara yang
berpartisipasi dengan skor rata-rata 371, sedangkan skor rata-rata
international 500, hasil studi PISA pada 2012, indonesia berada di peringkat ke
64 dari 65 negara yang berpartisipasi dengan skor rata-rata 375, sedangkan skor
rata-rata international 500.
Dari
hasil survey tersebut terlihat bahwa kemampuan literasi di bidang matematika
siswa di Indonesia sangat rendah dan di bawah standar rata-rata internasional.
Untuk meningkatkan kembali prestasi indonesia di kancah internasional maka
harus ada perubahan salah satu perubahan yang efektif yaitu terjadi pada cara mengajar
dan metode mengajar yang di gunakan guru.
Banyak
Guru di indonesia yang kurang menguasai metode mengajar yang bervariasi, salah
satunya guru matematika, banyak guru matematika yang cenderung menggunakan
metode mengajar yang membosankan dan menciptakan suasana tegang dengan
menyajikan secara langsung rumus-rumus yang rumit serta pembelajaran yang masih
terpusat pada guru, sehingga siswa hanya menyerap dan mendengarkan apa yang
dikatakan guru tanpa ada usaha untuk menyelesaikan bahkan membuat konsep dalam
penyelesaian masalah, sehingga pembelajaran berlangsung tidak bermakna.
Pembelajaran
matematika akan berlangsung lancar dan bermakna jika terjadi pembelajaran yang
aktif serta komunikasi antara guru dan siswa berlangsung dengan lancar selain
itu siswa harus memiliki kemampuan pemahaman konsep matematika, sehingga dengan
siswa memiliki kemampuan tersebut maka siswa tidak akan menganggap matematika
itu sulit.
Banyak
sekali metode pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru, seperti metode
pembelajaran Example non Example.
Metode ini sangat cocok untuk perkembangan siswa karena metode ini menggunakan
media gambar pada saat pembelajaran. Media gambar merupakan salah satu alat
yang digunakan dalam proses belajar mengajar yang dapat membantu mendorong
siswa lebih melatih diri dalam mengembangkan pola pikirnya. Sehingga dalam kegiatan
pembelajaran siswa diharapkan akan aktif termotivasi untuk belajar dan dapat
membantu siswa dalam memahami konsep. Sehingga pembelajaran akan lebih
bermakna.
Hal
ini sejalan dengan pendapat Ausubel yang mengatakan “bahan pelajaran yang
dipelajari haruslah bermakna (meaning full)”. Pembelajaran bermakna merupakan
suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat
dalam struktur kognitif seseorang, dan generalisasi-generalisasi yang telah
dipelajari dan diingat siswa. Oleh karena itu pelajaran harus dikaitkan dengan
konsep-konsep yang sudah dimiliki siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut
benar-benar terserap olehnya.
Pembelajaran
dengan menggunakan metode Example non
Example dengan gambar sebagai media pembelajaran dapat bermanfaat secara
fungsional bagi semua siswa dan dapat membantu siswa dalam memahami konsep
terlebih materi yang membutuhakan gambar secara real.
Berdasarkan permasalahan tersebut penulis
ingin meneliti serta membahas mengengai bagaimana pengaruh model pembelajaran Example non Example Terhadap peningkatan
Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Pada Materi Bangun Ruang Sisi Datar.
1.2
Rumusan
Masalah :
Berdasarkan latar belakang diatas adapun rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah:
Bagaimana
pengaruh model pembelajaran Example non
Example terhadap Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa
Pada Materi Bangun Ruang Sisi Datar.
1.3
Tujuan
Tujuan
dalam penelitian kali ini yaitu untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Example non Example terhadap Peningkatan
Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Pada Materi Bangun Ruang Sisi Datar
1.4
Manfaat
:
Bagi
penulis : Untuk mengetahui Pengaruh model pembelajaran Example non Example terhadap kemampuan
pemahaman konsep matematis SMP siswa sehingga kelak bisa diterapkan oleh
peneliti sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan kemampuan pemahaman konsep
matematis.
Bagi
siswa : untuk mengetahui, pengaruh model pembelajaran Example non Example terhadap peningkatan
kemampuan pemahaman konsep matematis siswa SMP. Sehingga siswa bisa
meningkatkan kemampuan tersebut.
Bagi guru : menjadi salah satu
referensi dan pertimbangan dalam meningkatkan kemampuan pemahaman konsep
matematis dengan model pembelajaran Example
non Example.
1.5 Batasan Masalah :
Batasan
masalah pada penelitian kali ini yaitu :
1. Perbedaan
hasil belajar matematika siswa yang diberi perlakuan dengan mengunakan model
pembelajaran examples non examples dengan metode belajar konvensional.
2. Penelitian
dilakukan pada Siswa SMP
3. Penelitian
dilakukan pada materi bangun datar pada semester genap.
1.6
Definisi Operasional :
Untuk memperoleh
pengertian yang benar dan untuk menghindari kesalahan pemahaman judul
penelitian ini, maka akan diuraikan secara singkat beberapa istilah-istilah
sebagai berikut :
a.
Examples Non Examples adalah Model pembelajaran
yang membelajarkan kepekaan siswa terhadap permasalahan yang ada disekitar
melalui analisis contoh-contoh berupa gambar-gambar/foto/kasus yang bermuatan
masalah.
b.
Kemampuan Pemahaman konsep adalah Kemampuan yang dimiliki seseorang dalam memahami suatu
konsep, yang mana konsep tersebut didapat dari pemahamannya sendiri, kemudian
mengkomunikasikannya kepada oranglain sehingga orang lain mengetahui dan juga
mengerti apa yang disampaikan.
c.
Bangun ruang sisi datar yang dimaksud disini
adalah bangun ruang yang memiliki sisi, titik sudut, serta diagonal
1.7 Hipotesis.
Hipotesis
dalam penelitian kali ini adalah adanya pengaruh positif model pembelajaran Example non Example terhadap kemampuan
pemahaman konsep matematis siswa.
BAB
II
KAJIAN
TEORI
2.1 Pemahaman Konsep Matematika
Menurut
Sumarmo Pemahaman diartikan dari kata understanding. Derajat pemahaman ditentukan oleh
tingkat keterkaitan suatu gagasan, prosedur atau fakta matematika dipahami
secara menyeluruh jika hal-hal tersebut membentuk jaringan dengan keterkaitan
yang tinggi. Dan menurut Depdiknas konsep diartikan sebagai ide abstrak yang
dapat digunakan untuk menggolongkan sekumpulan objek (dalam Nila, 2008).
Pemahaman konsep sangat
penting, karena dengan penguasaan konsep akan memudahkan siswa dalam
mempelajari matematika. Pada setiap pembelajaran diusahakan lebih ditekankan
pada penguasaan konsep agar siswa memiliki bekal dasar yang baik untuk
mencapai kemampuan dasar yang lain seperti penalaran, komunikasi, koneksi dan
pemecahan masalah.
Penguasan konsep merupakan
tingkatan hasil belajar siswa sehingga dapat mendefinisikan atau menjelaskan
sebagian atau mendefinisikan bahan pelajaran dengan menggunakan kalimat
sendiri. Dengan kemampuan siswa menjelaskan atau mendefinisikan, maka siswa
tersebut telah memahami konsep atau prinsip dari suatu pelajaran meskipun
penjelasan yang diberikan mempunyai susunan kalimat yang tidak sama dengan
konsep yang diberikan tetapi maksudnya sama.
Menurut Sanjaya (dalam Media Harja, 2012) mengatakan apa yang di maksud pemahaman konsep adalah kemampuan siswa
yang berupa penguasaan sejumlah materi pelajaran, dimana siswa tidak sekedar
mengetahui atau mengingat sejumlah konsep yang dipelajari, tetapi mampu
mengungkapan kembali dalam bentuk lain yang mudah dimengerti, memberikan
interprestasi data dan mampu mengaplikasikan konsep yang sesuai dengan struktur
kognitif yang dimilikinya.
Pemahaman
konsep merupakan salah satu kecakapan atau kemahiran matematika yang diharapkan
dapat tercapai dalam belajar matematika yaitu dengan menunjukkan pemahaman
konsep matematika yang dipelajarinya, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan
mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat
dalam pemecahan masalah (Depdiknas, 2003: 2).
Berdasarkan uraian diatas, penulis dapat
menyimpulkan definisi pemahaman konsep adalah Kemampuan yang dimiliki seseorang
dalam memahami suatu konsep, yang mana konsep tersebut didapat dari
pemahamannya sendiri, dan dijadikan sebagai dasar atau pegangan bagi dirinya
sendiri dalam mengaplikasikan konsep tersebut ke dalam bentuk yang berbeda.
Mengingat pentingnya pemahaman konsep tersebut, Menurut
Hiebert dan Carpenter (dalam Dafril: 2011) Pengajaran yang menekankan
kepada pemahaman mempunyai sedikitnya lima keuntungan, yaitu:
1.
Pemahaman memberikan generative artinya
bila seorang telah memahami suatu konsep, maka pengetahuan itu akan
mengakibatkan pemahaman yang lain karena adanya jalinan antar pengetahuan yang
dimiliki siswa sehingga setiap pengetahuan baru melaui keterkaitan dengan
pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.
2.
Pemahaman memacu ingatan artinya suatu
pengetahuan yang telah dipahami dengan baik akan diatur dan dihubungkan secara
efektif dengan pengetahuan-pengetahuan yang lain melalui pengorganisasian skema
atau pengetahuan secara lebih efisien di dalam struktur kognitif berfikir
sehingga pengetahuan itu lebih mudah diingat.
3.
Pemahaman mengurangi banyaknya hal yang
harus diingat artinya jalinan yang terbentuk antara pengetahuan yang satu
dengan yang lain dalam struktur kognitif siswa yang mempelajarinya dengan penuh
pemahaman merupakan jalinan yang sangat baik.
4.
Pemahaman meningkatkan transfer belajar
artinya pemahaman suatu konsep matematika akan diperoleh siswa yang aktif
menemukan keserupaan dari berbagai konsep tersebut. Hal ini akan membantu siswa
untuk menganalisis apakah suatu konsep tertentu dapat diterapkan untuk suatu
kondisi tertentu.
5.
Pemahaman mempengaruhi keyakinan siswa
artinya siswa yang memahami matematika dengan baik akan mempunyai keyakinan
yang positif yang selanjutnya akan membantu perkembangan pengetahuan
matematikanya.
Dari
uraian diatas di peroleh bahwa pemahaman konsep memiliki peranan yang penting
dalam kegiatan belajar siswa, dengan memiliki kemampuan pemahahaman konsep
siswa akan lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran dan dapat mengeneralisasikan
pengetahuan yang ia dapat kedalam bentuk lainnya sehingga siswa akan mengingat
lebih lama materi pelajaran yang di ajarkan karena ia menemukan sendiri konsep
yang di ajarkan.
Kemampuan
siswa dalam memahami konsep matematika perlu dilakukan dengan penilaian
terhadap pemahaman konsep dalam pembelajaran matematika. Dalam penelitian kali
ini menggunakan indikator kemampuan pemahaman konsep sebagai hasil belajar
matematika yang dicantumkan pada petunjuk teknis Peraturan Dirjen Dikdasmen
Depdiknas no. 506/C/PP/2004tanggal 11 November 2004 (dalam Tim PPPG Matematika
2005:86) Indikator tersebut adalah :
1.
Kemampuan menyatakan ulang sebuah konsep
adalah kemampuan siswa untuk mengungkapkan kembali apa yang telah
dikomunikasikan kepadanya;
2.
Kemampuan mengklafikasikan objek menurut
sifat-sifat tertentu sesuai dengan konsep adalah kemampuan siswa mengelompokkan
suatu objek menurut jenisnya berdasarkan sifat-sifat yang terdapat dalam
materi.
3.
Kemampuan member contoh dan bukan contoh
adalah kemampuan siswa untuk dapat membedakan contoh dan bukan contoh dari
suatu materi.
4.
Kemampuan menyajikan konsep dalam
berbagai bentuk representasi matematika adalah kemampuan siswa memaparkan
konsep secara berurutan yang bersifat matematis.
5.
Kemampuan mengembangkan syarat perlu
atau syarat cukup dari suatu konsep adalah kemampuan siswa mengkaji mana syarat
perlu dan mana syarat cukup yang terkait dalam suatu konsep materi.
6.
Kemampuan menggunakan, memanfaatkan dan
memilih prosedur tertentu adalah kemampuan siswa menyelesaikan soal dengan
tepat sesuai dengan prosedur.
7.
Kemampuan mengklafikasikan konsep atau algoritma
ke pemecahan masalah adalah kemampuan siswa menggunakan konsep serta prosedur
dalam menyelesaikan soal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Pendapat diatas sejalan dengan Peraturan Dirjen
Dikdasmen Nomor 506/C/Kep/PP/2004 tanggal 11 November 2001 tentang rapor pernah
diuraikan bahwa indikator siswa memahami konsep matematika adalah mampu :
1.
Menyatakan
ulang sebuah konsep,
2.
Mengklasifikasi
objek menurut tertentu sesuai dengan konsepnya,
3.
Memberikan
contoh dan bukan contoh dari suatu konsep,
4.
Menyajikan
konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis,
5.
Mengembangkan
syarat perlu atau syarat cukup dari suatu konsep,
6.
Menggunakan
dan memanfaatkan serta memilih prosedur atau operasi tertentu,
7.
Mengaplikasikan
konsep atau algoritma dalam pemecahan masalah.
2.1 Model Pembelajaran Example non Example
Model Example non Example
adalah strategi pembelajaran yang menggunakan media gambar dalam penyampaian
materi pembelajaran yang bertujuan mendorong siswa untuk belajar berfikir
kritis dengan jalan memecahkan permasalahan-permasalahan yang terkandung dalam
contoh-contoh gambar yang disajikan. Model pembelajaran Example non Example juga di tunjukan untuk mengajarkan siswa dalam
belajar memahami dan menganalisis sebuah konsep.
Example Non-Example adalah startegi yang dapat digunakan untuk
mengajarkan definisi sebuah konsep (Miftahul Huda, 2013 : 234)
Menurut Buehl (1996) dalam
Apariani dkk, (2010:20) menjelaskan bahwa examples non examples adalah
taktik yang dapat digunakan untuk mengajarkan definisi konsep. Taktik ini
bertujuan untuk mempersiapkan siswa secara cepat dengan menggunakan 2 hal yang
terdiri dari examples dan non examples dari suatu definisi konsep
yang ada dan meminta siswa untuk mengklasifikasikan keduanya sesuai dengan konsep yang
ada. Examples memberikan gambaran akan sesuatu yang menjadi contoh akan suatu materi
yang sedang dibahas, sedangkan non Examples memberikan gambaran
akan sesuatu yang bukanlah contoh dari suatu materi yang sedang dibahas.
Model Pembelajaran Examples non Examples menggunakan gambar sebagai media pembelajaran.
Media gambar merupakan salah satu alat yang digunakan dalam proses pembelajaran
yang dapat membantu mendorong siswa untuk menemukan dan mengembangkan konsepnya
sendiri. Dengan menerapkan media gambar diharapkan dalam pembelajaran dapat
bermanfaat secara fungsional bagi semua siswa, sehingga dalam kegiatan
pembelajaran siswa akan aktif dan semangat untuk belajar.
Examples
non examples merupakan model pembelajaran dengan
mempersiapkan gambar, diagram, atau tabel sesuai materi bahan ajar dan
kompetensi, sajian gambar ditempel atau memakai LCD/OHP, dengan petunjuk guru
siswa mencermati sajian, diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi, presentasi
hasil kelompok, bimbingan penyimpulan, evaluasi, dan refleksi (Roestiyah. 2001:
73).
Sementara
itu, Slavin dalam Djamarah, (2006: 1) dijelaskan bahwa Examples Non
Examples adalah model pembelajaran yang menggunakan contoh. Contoh-contoh
dapat diperoleh dari kasus atau gambar yang relevan dengan Kompetensi Dasar.
Berdasarkan
beberapa pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa model pembelajaran Example non Example adalah model
pembelajaran yang menggunakan media dalam pembelajarannya. Media disini
merupakan suatu gambar, diagram, atau tabel yang digunakan sebagai pengantar
bagi siswa dalam memahami materi matematika yang diajarkan. Dengan menggunakan
gambar siswa dapat melihat dan terdorong untuk mengamati, menganalisis, mengembangkan
konsepnya sendiri serta menimbulkan rasa semangat pada siswa dalam kegiatan
pembelajaran.
Terdapat langkah-langkah dalam Dalam Model
Pembelajaran Examples Non Examples. Menurut Miftahu Huda
(2013:235) langkah-langkah penerapan model pembelajaran Example non Example dapat dilakukan sebagai berikut :
1.
Guru menyiapakan gambar-gambar sesuai
dengan tujuan pembelajaran.
2.
Guru menempelkan gambar di papan tulis
atau ditayangkan lewat OHP
3.
Guru membentuk kelompok-kelompok yang
masing-masing terdiri dari 2-3 siswa.
4.
Guru memberikan petunjuk dan member
kesempatan kepada setiap kelompok untuk memperhatikan dan/atau menganalisis
gambar.
5.
Mencatat hasil diskusi dari analisis
gambar pada kertas.
6.
Member kesempatan bagi tiap kelompok
untuk mebacakan hasil dikusinya.
7.
Berdasarkan komentar atau hasil diskusi
siswa, guru menjelaskan materi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
8.
Penutup.
Menurut
buehl (1996), model pembelajaran Example
non Example melibatkan siswa untuk :
1.
Menggunakan sebuah contoh untuk
memperluas pemahaan sebuah konsep dengan lebih mendalam dan lebih kompleks.:
2.
Melakukan proses discovery (penemuan),
yang mendorong mereka membangun konsep secara progresif melalui pengalaman
langsung terhadap contoh-contoh yang mereka pelajari;
3.
Mengeksplorasi karakteristik dari suatu
konsep dengan mempertimbangkan bagian non example yang dimungkinkan masih
memiliki karakteristik yang telah di paparkan pada bagian example.
Model
pembelajaran Examples Non Examples mempunyai beberapa keuntungan.
Menurut Buehl (1996) keuntungan dari Model Pembelajaran Examples Non
Examples antara lain adalah sebagai berikut :
1.
Siswa berangkat dari satu definisi yang
selanjutnya digunakan untuk memperluas pemahaman konsepnya yang lebih mendalam
dan komplek.
2.
Siswa terlibat dalam suatu konsep discovery (penemuan),
yang mendorong mereka untuk membangun konsep secara progresif melalui
pengalaman examples non examples.
3.
Siswa diberi sesuatu yang berlawanan untuk
mengeksplorasi karakteristik dari suatu konsep dengan mempertimbangkan bagian non
examples yang dimungkinkan masih terdapat beberapa bagian yang merupakan
suatu karakter dari konsep yang telah dipaparkan pada bagian examples.
Selain beberapa keuntungan seperti di atas, model
pembelajaran ini juga mempunyai kekurangan. Adapun kekurangan dari model
pembelajaran Examples Non Examples akan dijelaskan sebagai berikut.
Kekurangan dari Model Pembelajaran Examples Non Examples :
1.
Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk
gambar.
2.
Memakan waktu yang lama.
2.3
Penelitian
yang relevan
Beberapa hasil
penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah ;
1.
Hasil
penelitian dari Ikha Malikha (2012) mengungkapkan bahwa metode example non example
berpengaruh terhadap penguasaan konsep matematika kelas VIII SMP Negeri 1
Kabupaten Cirebon. Hal ini ditunjukan dengan hasil pengujian Hipotesis sebesar
3,536 dan ttabel sebesar
2,024. Yang berarti yang
berarti
.
2.
Joko Susilo
(2010) Mengungkapkan Bahwa Model pembelajaran Example Non
Example berpengaruh terhadap
hasil belajar siswa kelas X di SMA Negeri 1 Pajar Bulan.
Hal ini ditunjukan dengan hasil tes siswa kelas eksperiment yang menggunakan
model pembelajaran Example non Example
yaitu kelas X1 mendapat nilai rata-ratanya adalah 67,63, Sedangkan hasil tes
siswa kelas kelas control yaitu X2 yang menggunakan pembelajaran konvensional.
Mendapat nilai rata-ratanya adalah 63,17. Dengan demikian dapat diketahui bahwa
selisih rata-rata nilai siswa kelas X1 dan nilai siswa kelas X2 adalah 4,46.
Dan didapat Didapat thitung = 24,31 dan ttabel = 1,671
yang berarti
.
3.
Damiyati (2012) mengungkapkan bahwa Model
pembelajaran Example non Example pada
meteri bangun datar kelas VII MTsN Karangrejo Tulungagung memberikan pengaruh
positif terhadap hasil belajar matematika. Hal ini ditunjukan dengan hasil
hitung dengan nilai
yaitu 3,313 > 1,671 .
4.
Nurul Astuty
Yensy. B (2012) mengungkapkan bahwa Penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe Example non Example menggunakan alat peraga
pada pokok bahasan kubus dan balok dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas
VIII SMP N 1 Argamakmur. Penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe Example non Example menggunakan alat peraga
pada pokok bahasan kubus dan balok dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa
kelas VIII SMP N 1 Argamakmur.
Persamaan penelitian ini dengan keempat
penelitian diatas yaitu dalam proses pembelajaran di kelas model yang digunakan
adalah model pembelajaran Example non Example, dan persamaan dengan
penelitian Ikha Malikha (2012) yaitu variable bebas, dimana pada penelitian
tersebut variable bebas yang di gunakan yaitu pemahaman konsep matematika SMP, sedangkan
perbedaan dengan penelitian yang dilakukan Joko Susilo (2010), Damiyati (2012)
dan Nurul Astuty Yensy. B (2012) yaitu pada variable bebas, dimana pada penelitian tersebut variable
bebas yang di gunakan yaitu hasil belajar matematika, untuk penelitan yang
Damiyati (2012) dan Nurul Astuty Yensy. B (2012) terhadap hasil belajar matematika siswa SMP, dan untuk penelitian yang
Joko Susilo (2010) terhadap hasil belajar siswa SMA sedangkan dalam penelitian
ini variable bebas yang digunakan yaitu kemampuan pemahaman konsep matematis
siswa SMP.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat,
waktu dan subjek penelitian
Tempat yang digunakan dalam penelitian kali
ini adalah SMPN 5 Kota serang. Penelitian dilaksanakan pada tahun ajaran
2016/2017.
3.2 Metode
dan Desain Penelitian
Metode penelitan dalam penelitian ini adalah
metode kuasi eksperimen karena individu tidak dipilih secara acak melainkan
peneliti menerima subjek seadanya ( Ruseffendi, 2005: 52).
Pada penelitian ini akan digunakan desain
penelitian control non ekuivalen. Jenis desain ini subjek di kelompokkan tidak secara
acak. Pada jenis desain ini menggunakan dua kelas, satu kelas sebagai kelas
eksperimen dan satu kelas sebagai kelas control. Kelas eksperimen akan
mendapatkan perlakukan yaitu pembelajaran menggunakan model pembelajaran Example non Example , sedangkan kelas
control mendapat pembelajaran secara konvensional.
Dengan demikian desain penelitian ini sebagai
berikut ;
|
Keterangan :
0
: Pretest
dan postes
X :
Perlakuan ( Model Pembelajaran Example
non Example)
--- :
subjek tidak dipilih secara acak tetap I menggunakan yang sudah ada.
3.3 Variabel
Penelitian
Variabel penelitian kali ini terdiri atas dua
jenis, yaitu Variabel bebas (independent)
dan Variabel terikat (dependent). Variabel bebas merupakan keadaan
perlakuan yang menunjukkan keadaan subjek, variabel ini merupakan variabel yang
dikontrol dan dimanipulasi oleh peneliti. Variabel bebas dalam penelitian ini
adalah model pembelajaran examples non examples, yang selanjutnya
disebut dengan variabel x. Variabel terikat disebut juga variabel tergantung,
variabel yang dipengaruhi, atau variabel yang diramalkan (predicted variable).
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Kemampuan Pemahaman Konsep
Matematis.
3.4
Populasi
dan Sample Penelitian
Populasi
adalah himpunan semua individu atau objek yang menjadi bahan studi oleh
peneliti. Populasi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII SMP. Sampel dipilih dari kelas
yang sudah ada dikelas tersebut, pengambilan sampel dilakukan secara
berkelompok karena pengambilan sampel secara acak yang didasarkan kepada
kelompok, tidak didasarkan kepada anggota-anggotanya.
3.5
Sumber
Data dan Variabel Data
1.
Sumber Data
Data adalah hasil pencatatan peneliti, baik yang
berupa fakta ataupun angka. Data menurut sumbernya digolongkan menjadi
dua, yaitu data primer dan data sekunder.
a.
Data primer
Sumber data primer adalah sumber pertama dimana sebuah
data dihasilkan. Data yang dihasilkan dari sumber data primer adalah data
primer. Sumber
data yang digunakan oleh peneliti sebagai sumber data primer adalah dokumen
mengenai nilai siswa, nilai post test sebagai ulangan harian.
b.
Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah
sumber data kedua setelah sumber data primer.. Sumber data sekunder yang
digunakan oleh peneliti adalah guru matematika kelas VIII SMP. Peneliti memilih
guru kelas sebagai sumber data dengan alasan guru kelas tersebut dapat
diwawancarai terkait kemampuan siswa, keaktifan siswa dan kreatifitas siswa
pada pembelajaran pada hari biasa sebelum adanya penelitian. Melalui guru,
peneliti bisa mendapatkan dokumen-dokumen tentang hasil belajar siswa sebelum
diadakannya penelitian.
2.
Variabel Data
Skala Pengukuran Data
Skala pengukuran data yang digunakan oleh
peneliti dalam penelitian ini adalah skala data yang digunakan untuk hasil
belajar matematika siswa berupa skala nominal yang diperoleh dari nilai post
test.
3.6
Instrumen
Penelitian
3.6.1
Tes
Tes yang akan dilakukan pada penelitian kali ini
berupa pretest dan posttest, pretes dilakukan sebelum pembelajaran dimulai yang
bertujuan untuk mengetahui sampai dimana pemahaman konsep siswa terhadap materi
yang diajarkan, dengan kata lain pretes dialkukan untuk mengetahui kemampuan
awal siswa sebelum perlakuan dilakukan. Postes diberikan pada akhir pembelajaran,
dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan pemahaman konsep siswa
terhadap materi yang telah diajarkan setelah mengalami suatu kegiatan
pembelajaran, dengan kata lain postes dilakukan untuk mengukur kempuan akhir
siswa setelah mendapat perlakuan.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan instrumen
pengumpulan data berupa soal tes yang merupakan instrumen dari metode tes hasil
belajar. Instrumen pengumpulan data tersebut berupa soal bentuk uraian. Peneliti
menggunakan bentuk uraian dengan tujuan agar siswa dapat menguraikan dan
menyatakan jawaban dengan kata-kata sendiri dalam bentuk, teknik dan gaya yang
berbeda satu dengan yang lainnya. Sebelum pedoman tes yang berupa soal-soal tes
ini digunakan, terlebih dahulu peneliti mengujicobakan soal tersebut untuk
memastikan validitas, reliabilitas, daya pembeda, indeks kesukaran soal tes.
sehingga diharapkan soal yang digunakan benar-benar dapat mengukur hasil
belajar siswa.
1.
Validitas
Validitas instrumen adalah derajat yang menunjukkan
dimana suatu tes mengukur apa yang hendak diukur.Validitas isi (content
validity) adalah pengujian validitas dilakukan atas isinya untuk memastikan
apakah butir tes hasil belajar mengukur secara tepat keadaan yang ingin diukur.
Pengujian validasi dapat dilakukan dengan meminta pertimbangan ahli (expert
judgenent). Orang yang memiliki kompetensi dalam suatu bidang dapat
dimintakan pendapatnya untuk menilai ketepatan isi butir Tes Hasil Belajar.
Butir-butir yang mengukur materi sebagaimana dipahami dan disepakati oleh ahli,
profesional atau penilai dapat dinyatakan sebagai butir-butir Test Hasil Belajar
yang valid.
a.
Validitas
teoritik
Menurut suherman valididtas teoritik atau validitas
logic adalah validitas alat evaluasi yang dilakukan berdasarkan pertimbangan
(judgement) teoritik atau logika. Agar hasil pertimbangan tersebut memadai
sebaiknya dilakukan oleh para ahli dalam hal tersebut. Konsultasi dilakukan
pada guru atau dosen pembimbing.
Hal-hal yang harus di perhatikan pada validitas
teoritik ini antara lain validitas isi, validitas muka dan validitas konstruksi.
Suatu tes matematika dikatakan memiliki validitas isi apabila dapat mengukur
kompetensi dasar yang telah dirumuskan. Ini berarti bahan tersebut sesuai
dengan standar kompetensi, dan buku sumber serta kegiatanbelajar mengajar yang
telah dilaksanakan
b.
Validitas Empirik
Validitas empiric atau validitas kriterium merupakan
validitas yang ditinjau dalam hubungannya dengan kriterium. Uji validitas ini
digunakan untuk menentukan tinggi rendahnya koefisien. Validitas alat evaluasi
yang di buat melalui perhitungan korelasi. Salah satu cara untuk mencari
validitas adalah dengan menggunakan rumus korelasi product-moment. Penggunaan product
moment effektif bila data yang di uji keduanya berbentuk kontinu, normal
dan linier
Korelasi product moment dapat dirumuskan sebagai
berikut ;
![]() |
dimana :
rxy = koefisien korelasi
N = banyaknya subyek
X = skor tiap butir soal
Y = skor
total
Setelah diperoleh koefisisen korelasi, langkah
selanjutnya adalah dengan menguji signifikansi koefisien korelasi tersebut.
Salah satu cara menguji signifikansi koefisien korelasi adalah dengan
menggunakan uji-t dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
r : koefisien
korelasi 
n : Jumlah responden
2.
Reliabilitas
Reliabilitas soal merupakan ukuran yang menyatakan
tingkat keajegan atau kekonsistenan suatu soal tes. Suatu soal disebut ajeg
atau konsisten apabila soal tersebut menghasilkan skor yang relatif sama
meskipun diujikan berkali-kali. Reliabilitas soal dapat diketahui dengan rumus
berikut:
![]() |
(Suherman,2001 : 163)
Keterangan :
r11 : Reabilitas Instrument
n :
Banyaknya butir soal
St2 : Varians Total
3.
Indeks
Kesukaran
Bilangan yang menunjukan sukar atau mudahnya suatu
soal disebut indeks kesukaran (difficulty index). Untuk menghitung indeks
kesukaran tiap butir soal dapat dihitung mengunakan rumus sebagai berikut :
(Nasoetion et al.2007:5.25)
Keterangan :
N :
25% peserta didik
Dengan kriteria indeks kesukaran :
|
Indeks Kesukaran
|
Klasifikasi
|
|
IK = 0.00
|
Terlalu sukar
|
|
0.00 < IK
|
Sukar
|
|
0.30 < IK
|
Sedang
|
|
0.70 < IK < 1.00
|
Mudah
|
|
IK= 1.00
|
Terlalu Mudah
|
(Suherman,2001 : 190)
4.
Daya
Pembeda
Daya pembeda sebuah butir soal adalah Kemampuan
butir soal untuk membedakan antara testi (siswa) yang pandai atau berkemampuan
tinggi dengan siswa yang bodoh. (Suherman, 2001 : 175)
(Nasoetion et al.2007:5.25)
Keterangan :
N :
25% peserta didik
Kriteria daya
pembeda
|
Indeks Kesukaran
|
Klasifikasi
|
|
DP
|
Sangat jelek
|
|
0.00 < DP
|
Jelek
|
|
0.20 < DP
|
cukup
|
|
0.40 < DP
|
Baik
|
|
0.70 < DP
|
Sangat Baik
|
(Suherman,2001 : 177)
3.7
Prosedur Penelitian
Adapun prosedur yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut.
1. Persiapan
penelitian
a. Mengajukan
surat permohonan izin penelitian kepada pihak sekolah,
b. Berkonsultasi
dengan Kepala Sekolah dan guru bidang studi matematika dalam rangka observasi
untuk mengetahui bagaiman aktifitas dan kondisi dari tempat atau objek
penelitian.
2. Pelaksanaan penelitian
Mempersiapkan
perangkat mengajar, antara lain; Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), lembar
kerja Siswa (LKS), absensi siswa, jurnal pembelajaran, buku paket matematika
kelas VII, soal post test yang sebelumnya sudah diuji cobakan, dan
daftar nilai.
3.
Melaksanakan kegiatan belajar mengajar
Kegiatan
belajar mengajar ini dilaksanakan pada dua kelas yang dijadikan sampel
penelitian, yaitu kelas pertama sebagai kelas eksperimen yang diajar dengan
model model pembelajaran examples non examples dan kelas kedua sebagai kelas
kontrol yang diajar dengan metode konvensional.
4.
Melaksanakan tes
Tes
dilaksanakan untuk mengetahui pemahaman siswa yang diajar dengan pembelajaran
yang berbeda. Tes ini dilaksanakan satu kali yaitu post dilakukan untuk
mengetahui hasil belajar setelah mendapatkan perlakuan berbeda.
5.
Penulisan laporan
Tahap terakhir
merupakan tahap yang paling penting dalam proses pelaksanaan penelitian adalah
tahap menulis laporan hasil penelitian . melaporkan hasil penelitian akan
menentukan bagaimana proses penyebaran pengalaman penelitian berlangsung secara
semestinya di masyarakat luas.
3.8
Tahapan
Penelitian
![]() |
![]() |
|||||
![]() |
|||||
![]() |
|||||
3.9
Analisis
data
3.9.1
Analisis Statistik Deskriptif
Analisis
statistik deskriftif dilakukan untuk menampilkan informasi secara statistik
dari variable-variabel yang terdaftar. Informasi statistic ini akan di sajikan
dalam berbagai bentuk data. Analisis ini di lakukan untuk mengetahui data hasil
dan postes yang meliputi data statistic mengenai mean, median, varians, dan
lain-lain. Cara-cara penyajian dalam bentuk statistic deskriftif yaitu dengan
tabel baisa maupun tabel distribusi frekuensi, grafik garis maupun batang,
diagram lingkaran, pictogram, penjelasan kelompok melalui modus, median, mean dan varians
kelompok melalui rentang dan simpangan baku.
3.9.2
Analisis
Statistik Inferensial
1.
Uji Prasyarat
Uji
prasyarat dilakukan untuk menentukan statistic yang digunakan dalam mengolah
data hasil tes yaitu parametric atau non parametric. Pada uji prasyarat ini dua
hal yang dilakukan yaitu, uji normalitas dan uji homogenitas.
a)
Uji Normalitas
Uji
normalitas dilakukan untuk mengetahui kenormalan sebaran data penelitian.
Pengujian normalitas ini dilakukan dengan rumus chi kuadrat yaitu :

(Sugiyono,
2007: 107)
Keterangan
Hipotesis
yang diajukan adalah :
Ho : Data berasal dari distribusi normal
Ha : Data tidak berasal dari distribusi
normal
b)
Uji Homogenitas
Jika
data berdistribusi normal, maka analisis data dilanjutkan dengan uji
homogenitas. Uji Homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang
diperoleh memiliki varian yang homogen atau tidak. Uji homogenitas dalam
penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji F. adapun langkah-langkahnya
adalah sebagai berikut ;
1)
Merumuskan Hipotesis
2)
Menentukan taraf nyata untuk pengujian
yakni 
3)
Perhitungan uji
a)
Menurut riduwan (dalam ayu 2012 : 41)
yang digunakan untuk menentukan nilai F hitung adalah sebagai berikut :
b)
Menentukan F tabel
Dimana :
V1 = dk pembilang = n – 1
(untuk varians terbesar)
V2 = dk penyebut = n – 1
(untuk varians terkecil)
Jika
dk pembilang dan penyebut yang dimaksud tidak tertera pada tabel ditribusi F,
maka Ftabel dapat dicari dengan rumus interpolasi
Keterangan :
B : nilai dk yang
dicari
Bo : nilai dk pada awal
nilai yang sudah ada
B1 : nilai dk pada
akhir nilai yang sudah ada
C : nilai f tabel yang
dicari
Co : nilai F tabel pada
awal nilai yang sudah ada
C1 nilai f tabel pada
akhir nilai yang sudah dicari
4)
Menentukan keputusan dengan kriteria
sebagi berikut :
Jika

Jika

5)
Membuat kesimpulan
c)
Uji Perbedaan Dua rata-rata
Uji perbedaan
dua rata-rata dilakukan dengan menggunakan uji t. gunanya adalah untuk menguji
kemampuan generalisasi (signifikansi hasil penelitian yang berupa perbandingan
keadaan variable dari dua rata-rata sampel )
1)
Data Pretes
Uji perbedaan dua rata-rata data pretes dilakukan
dengan menggunakan uji t dua pihak untuk mengetahui apakah kemampuan awal
kelompok eksperimen dan kelompok control sama atau tidak. Langkah-langkah
pengujiannya sebagai berikut:
a)
Merumuskan Hipotesis
b)
Menentukan taraf nyata, yaitu 
c)
Perhitungan uji
1) Mencari
t hitung
a)
Jika normal dan Homogen
Polled
Varians

b)
Jika data normal dan tidak homogen
Separated
Varians

Keterangan
:
d) Menentukan
Keputusan criteria
Jika ttabel
t hitung
t tabel maka
diterima.
e)
Membuat kesimpulan
2)
Data Postes
Uji perbedaan dua rata-rata data postes
dilakukan dengan menggunakan uji t dua pihak yang dilanjutkan dengan uji t satu
pihak untuk mengetahui apakah kemampuan pemahaman konsep matematis siswa
kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok control atau tidak.
Langkah-langkah pengujiannya sebagai
berikut :
a)
Merumuskan Hipotesis
b)
Menentukan taraf nyata, yaitu 
c)
Perhitungan uji
1)
Mencari t hitung
a) Jika
normal dan Homogen
Polled
Varians

b) Jika
data normal dan tidak homogen
Separated
Varians

Keterangan
:
d) Menentukan
Keputusan criteria
Jika
thitung
t tabel maka
diterima.
Jika
thitung
t tabel maka
ditolak.
e)
Membuat kesimpulan
3.10
Prosedur Analisis Data
Prosedur
analisis data dalam penelitian kali ini terbagi menjadi dua, yakni analisis
data pretes dan analisis data postes. Analisis data pretes bertujuan untuk
mengetahui keadaan kemampuan awal siswa pada kelompok eksperimen dan pada
kelompok control. Sedangkan analisis
data postes dilakukan untuk mengetahui perbandingan nilai rata-rata kemampuan
pemahaman konsep matematis siswa pada kelompok eksperimen dan pada kelompok
control setelah di berikan pembelajaran matematika dengan perlakuan yang
berbeda. Pada kelompok eksperimen di berikan perlakukan dengan menggunakan
metode Example Non Example dan pada
kelas control hanya di berikan pengajaran konvensional.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmad,
Z. (2014). Perbandingan Peningkatan
Kemampuan Koneksi Matematis Siswa SMP Antara yang Mendapatkan Pembelajaran
Menggunakan Strategi Konflik Kognitif Piaget dan Hasweh. Tesis pada Jurusan
Pendidikan Matematika UPI Bandung: tidak diterbitkan. Di download :
http://repository.upi.edu/6559/4/S_MTK_0905614_Chapter1.pdf (23 April 2016)
Apriani, Atik
dan David Indrianto. Implementasi model pembelajaran examples non examples.
FKIP PGMI. IKIP PGRI SUMEDANG. 2010
Dafril,
A. 2011. Pengaruh Pendekatan Konstruktivisme Terhadap Peningkatan Pemahaman
Matematika Siswa. Tersedia :
http://mediaharja.blogspot.co.id/2015/08/pemahaman-konsep-matematika.html
(17 April 2016)
Depdiknas.
2003. Pedoman Khusus Pengembangan Sistem
Penilaian Berbasis Kompetensi SMP .
Jakarta: Depdiknas.
http://litbang.kemdikbud.go.id/index.php/survei-internasional-PISA
(14 april 2016 )
http://litbang.kemdikbud.go.id/index.php/timss
(14 april 2016 )
https://www.oecd.org/PISA/PISAproducts/46619703.pdf
(14 april 2016 )
Irawati
Ardi “ Model Pembelajaran Example Non
Example” dalam http://irawatiardi.blogspot.co.id/2014/12/model-pembelajaran-example-non-example.html
di akses (14 april 2016)
Ikha Malikha, 2012. Pengaruh Penerapan Metode Examples Non Examples Terhadap
Penguasaan Konsep Matematika Siswa Pada Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Datar.
Skripsi Institut Agama Islam Negeri (Iain) Syekh Nurjati Cirebon. Di download :
http://web.iaincirebon.ac.id/ebook/repository/127350046_IKHA%20MALIKHA_58451114__ok.pdf
(13 Maret 2016)
Joko Susilo. 2010. Pengaruh
Penggunaan Metode Mengajar Examples
Non Examples Kelas X Terhadap
Hasil Belajar Siswa Di Sma Negeri 1 Pajar Bulan Tahun Pelajaran 2010/2011.
Skripsi Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (Stkip) Muhammadiyah
Pagaralam. Di download : https://asmaditsaqib.files.wordpress.com/2014/01/pengaruh-penggunaan-metode-mengajar-examples-non-examples-kelas-x-terhadap-hasil-belajar-siswa-di-sma-negeri-1-pajar-bulan-tahun-pelajaran-20102011.pdf (13 Maret 2016).
Huda,
Miftahul (2013) Model-Model Pengajaran
dan pembelajaran, Yogyakarta : Pustaka pelajar
Nasoetion,
N. 2007. Evaluasi Pembelajaran Matematika. Jakarta : Universitas.
Nila
Kesumawati. 2008. Pemahaman Konsep Matematik dalam Pembelajaran Matematika
Nurul Astuty Yensy. B (2012) ‘Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non
Examples Dengan Menggunakan Alat Peraga Untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Siswa Di Kelas VIII Smp N 1 Argamakmur”. Vol. X No. 1, di download 6
juni 2016. http://repository.unib.ac.id.
Roestiyah.
2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Rueffendi,
E.T (1998) Pengantar Kepada Membantu Guru
Mengembangkan Kompetnsinya Dalam Pengajaran Matematika Untuk Meningkatkan CBSA,
Bandung : Tarsito
Media Harja (2012). Penerapan Model Pembelajaran Cooperatif Learning Dengan Media Pembelajaran Interaktif Berbasis Komputer Untuk Meningkatkan Representasi Dan Pemahaman Konsep Integral. Di lihat di http://mediaharja.blogspot.co.id/2015/08/pemahaman-konsep-matematika.html (17 April 2016).
Sugiyono.
(2007). Statistika Untuk Penelitian. Alfabeta : Bandung
Suherman,
E. 2001. Evaluasi Proses dan Hasil
Belajar Matematika, Modul 1-6. Jakarta : Untiversitas Terbuka.
Damiati (2012) Pengaruh Model Pembelajaran Examples Non Examples Terhadap Hasil
Belajar Matematika Siswa Pada Materi Bangun Datar Kelas Vii Mtsn Karangrejo Tulungagung Semester Genap
Tahun Ajaran 2012/2013. Skripsi
Program Studi Tadris Matematika Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam
Negeri (Stain) Tulungagung. Di download : http://repo.iain-tulungagung.ac.id/424/1/SKRIPSI%20lengkap%20%28damiati%29.pdf
( 13 Maret 2016).






Kk, boleh filenya ini dikirim ke e-mail saya kk
BalasHapusdesninatalina1925@gmail.com
saya mau menuliskannya sebagai referensi tugas juga kk...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapuskak klw boleh aq juga minta dikirimin filenya ke e-mail
BalasHapussri.munawangi@gmail.com
mohon bantuannya