Ada tiga jenis serangga
yang bukan hanya disebut, tapi menjadi nama surat dalam Alquran, yaitu semut
(an-naml), laba-laba (al-ankabut), dan lebah (an-nahl). Ada apa dengan tiga
jenis serangga ini?
Marilah kita perhatikan semut. Ia menghimpun makanannya sedikit demi sedikit. Ia terus mengangkut makanan tanpa memperhatikan kemampuan fisik untuk menyangganya. Kita sering melihat semut berjalan terseok-seok karena ia menggendong makanan yang jauh lebih besar dan banyak ketimbang tubuhnya. Ia terus menumpuk makanan untuk stok selama sekian tahun, padahal umurnya tidak lebih dari setahun. Dan semut patut di contoh oleh manusia, dimana semut saling bahu membahu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan semutpun saling bergotong-royong untuk mrmbuat sarang bersama-sama.
Marilah kita perhatikan semut. Ia menghimpun makanannya sedikit demi sedikit. Ia terus mengangkut makanan tanpa memperhatikan kemampuan fisik untuk menyangganya. Kita sering melihat semut berjalan terseok-seok karena ia menggendong makanan yang jauh lebih besar dan banyak ketimbang tubuhnya. Ia terus menumpuk makanan untuk stok selama sekian tahun, padahal umurnya tidak lebih dari setahun. Dan semut patut di contoh oleh manusia, dimana semut saling bahu membahu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan semutpun saling bergotong-royong untuk mrmbuat sarang bersama-sama.
Marilah kita perhatikan
laba-laba. Ia binatang dengan sarang paling rapuh. Tapi jangan remehkan sarang
laba-laba. Sarangnya yang terlihat rapuh itu adalah jebakan. Binatang lain yang
tersangkut jaring laba-laba, ia akan terjebak di sana dan harus berjuang keras
lepas dari jaring-jaringnya. Jika gagal, ia akan dimangsa laba-laba. Jaring
laba-laba bukan tempat yang aman untuk berlindung. Bahkan laba-laba jantan bisa
dihabisi betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling bertumbukan dan dapat
saling memusnahkan.
Terakhir, mari kita
perhatikan lebah. Binatang ini sangat disiplin dalam pembagian kerja. Ada lebah
pekerja, ada lebah ratu, dan ada lebah pejantan. Semua bekerja dengan teratur
tanpa saling menyikut atau mengeluh. Segala residu yang tidak berguna
disingkirkan dari sarang. Makanannya terpilih dari yang baik-baik yaitu nektar
(sari bunga). Dari sari makanan yang baik dihasilkan produk yang baik yaitu
madu. Sarang lebah juga terkenal sangat steril sehingga tidak ada bakteri yang
menyusup karena itu tidak ada pembusukan di sarang lebah. Lebah tidak akan
menggangu kecuali ada yang menyerangnya. Bahkan, sengatan lebah bisa menjadi
obat dan sarana sejumlah terapi kesehatan. Dan sarang madu yang dihasilkan oleh
lebahpun berbentuk heksagonal yang beratuaran sehingga tidak ada ruang yang
tersia-siakan. Dan kenapa lebah memilih bentuk heksagonal, karen bentuk
heksagonal merupakan bentuk yang tepat dan tak banyak ruang yang tersia-siakan,
dimana antar sisi dapat dimanfaatkan kembali oleh bentuk heksagonal lainnya,
dan sarang madupun terbentuk dengan teratur.
Pelajaran apa yang bisa
diambil Pertama, semut mewakili budaya menumpuk dan menghimpun tanpa kemampuan
untuk mengolahnya. Apa yang ia tumpuk melebihi kemampuan untuk memikulnya.
Dalam beberapa hal, budaya semut mencerminkan konsumtivisme dan kerakusan. Kita
lihat semut kadang bergulat dengan sesama jenisnya ketika merubung gula dan
dari semut kita juga diajarkan untuk hidup bergotong royong sehingga kebutuhan
bersama dapat terpenuhi. Kedua, laba-laba. Ia mewakili insting untuk memangsa.
Dalam rangka melindungi diri dan kepentingannya, laba-laba tidak sayang untuk
menjebak dan memangsa makhluk lain, bahkan pasanganya sendiri. Dalam beberapa
hal, laba-laba mewakili sifat egoisme dan individualisme. Ketiga, lebah. Ia
serangga yang paling istimewa. Ia tidak pernah mengganggu dan merugikan
makhluk lain. Bahkan ia selalu memberi kebaikan, dalam madu dan bahkan pada
sengatannya. Nabi Muhammad saw mengibaratkan seorang mu’min seperti lebah:
“Tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan
berguna untuk orang lain, dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula
memecahkannya.”
Marilah kita berupaya untuk menjadi semakin dekat dengan sifat-sifat lebah, selalu memberi yang baik-baik, dan tidak menganggu serta menyakiti orang lain.
Marilah kita berupaya untuk menjadi semakin dekat dengan sifat-sifat lebah, selalu memberi yang baik-baik, dan tidak menganggu serta menyakiti orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar